Tol Bakauheni-Terbanggi Besar: jalur cepat menuju kesejahteraan SumatraJalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar. (Detik/Red)

HomeBerita

Tol Bakauheni-Terbanggi Besar: jalur cepat menuju kesejahteraan Sumatra

"Lebih dari sekadar jalan, tol ini menjahit waktu, mendobrak batas ekonomi, dan membuka pintu bagi mimpi-mimpi baru. Dari senyum Pak Dirman di rest area hingga pesona Pahawang yang kini lebih dekat, ini adalah kisah tentang Lampung yang bangkit, menyatu dengan dunia, dan melangkah menuju masa depan."

Mahkamah Agung Peduli gelar Jumber di Cagar Budaya
Metro raih peringkat pertama SPM 2022 di bidang pendidikan
Sekda Kota Metro turun ke lokasi banjir: warga diminta waspada

Pagi yang tenang, di tengah hiruk-pikuk truk pengangkut barang yang melintas, seorang pria paruh baya berdiri di tepi rest area KM 87 ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar. Di depannya, meja kecil penuh dengan bungkusan keripik pisang yang terbungkus rapi, dengan tulisan “Keripik Pisang Khas Lampung – Karya Tangan Pak Dirman.” Ia menatap kendaraan yang lalu-lalang, berharap salah satu pengendara berhenti dan tertarik mencicipi produknya.

“Dulu, sebelum ada tol ini, mana mungkin saya bisa menjual langsung ke pembeli dari Jakarta,” katanya sambil tersenyum. Dirman adalah satu dari ratusan pelaku UMKM yang kini menikmati peluang baru berkat keberadaan jalan tol sepanjang 140,9 kilometer itu.

Namun, cerita Pak Dirman hanyalah sepotong mozaik dari kisah besar yang mengiringi perjalanan tol Bakauheni-Terbanggi Besar, bagian dari megaproyek Jalan Tol Trans-Sumatera (JTTS). Sejak diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 8 Maret 2019, tol ini telah membawa perubahan signifikan dalam wajah ekonomi, pariwisata, pembangunan, dan kehidupan masyarakat Lampung.

Tol Bakauheni-Terbanggi Besar bukan hanya menghubungkan dua titik geografis, tetapi juga menjahit waktu yang sebelumnya terputus. Jarak tempuh Bakauheni—gerbang utama Pulau Sumatra bagi pengunjung dari Jawa—ke Terbanggi Besar yang dulunya memakan waktu hingga lima jam kini bisa diselesaikan dalam 1,5 jam saja.

Efisiensi ini menjadi berkah tersendiri bagi sektor logistik. Hasil bumi Lampung seperti kopi robusta, lada, dan singkong kini lebih cepat menjangkau pasar Jakarta dan sekitarnya. Data dari Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa biaya logistik dari Lampung ke Pulau Jawa turun hingga 30 persen sejak jalan tol ini beroperasi.

“Dengan waktu pengiriman yang lebih cepat, kami bisa menjaga kualitas produk. Pelanggan kami di Jakarta puas karena kopi tiba lebih segar,” ujar Siti, seorang pengusaha kopi di Lampung Tengah.

Namun, bukan hanya efisiensi yang dicapai. Jalan tol ini juga membuka peluang kolaborasi lintas wilayah, memungkinkan Lampung menjadi simpul penting dalam rantai distribusi nasional.

Satu hal yang tak bisa diabaikan adalah dampak signifikan pada sektor pariwisata. Lampung, yang selama ini menyimpan potensi wisata alam dan budaya, kini lebih terbuka dan mudah diakses.

“Kalau dulu, mau ke Pahawang harus mikir dua kali. Perjalanan panjang dari Bakauheni ke lokasi membuat banyak orang enggan,” ujar Andi, seorang pemandu wisata snorkeling. “Sekarang, hanya dalam beberapa jam, wisatawan sudah bisa menikmati keindahan bawah laut Pahawang.”

Tak hanya Pahawang, destinasi lain seperti Taman Nasional Way Kambas dan Pantai Sari Ringgung juga mencatat peningkatan jumlah kunjungan wisatawan. Menurut data Dinas Pariwisata Provinsi Lampung, kunjungan wisatawan ke Lampung meningkat hampir 40 persen dalam tiga tahun terakhir.

Bahkan desa-desa wisata yang dulu tersembunyi kini mulai bersinar. Desa Batu Granit di Lampung Selatan, dengan panorama bebatuan besar yang unik, kini menjadi tujuan favorit wisatawan berkat akses yang lebih mudah.

Di balik lalu lintas yang ramai, ada geliat pembangunan yang tak kalah cepatnya. Kawasan di sekitar ruas tol Bakauheni-Terbanggi Besar mulai dilirik oleh investor, baik untuk pengembangan kawasan industri maupun perumahan.

Pemerintah daerah pun tak tinggal diam. Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Lampung Tengah mulai dirancang sebagai pusat logistik terpadu untuk mendukung hilirisasi hasil pertanian dan perkebunan. Dengan adanya tol, KEK ini diproyeksikan menjadi pusat pertumbuhan baru di Sumatra bagian selatan.

Namun, pembangunan ini juga melahirkan tantangan. Keberlanjutan proyek harus diiringi dengan kebijakan yang berpihak pada masyarakat lokal.

“Kami berharap pemerintah melibatkan kami dalam proses pembangunan kawasan ini,” ujar Syamsul, kepala desa di Lampung Selatan. “Jangan sampai hanya jadi penonton di rumah sendiri.”

Salah satu kisah sukses yang paling mencolok adalah kebangkitan UMKM lokal. Rest area sepanjang jalan tol ini menjadi etalase produk khas Lampung, mulai dari keripik pisang hingga suvenir tenun tapis.

Lina, seorang ibu rumah tangga yang sebelumnya hanya menjual kue tradisional di pasar kecil, kini meraup keuntungan lebih besar dengan memasarkan produknya di rest area. “Omzet saya naik tiga kali lipat. Banyak pembeli dari luar kota yang tertarik mencoba makanan khas Lampung,” katanya.

Keberadaan rest area ini bukan hanya soal transaksi ekonomi, tetapi juga ruang interaksi budaya. Pengendara dari berbagai daerah dapat menikmati cita rasa dan kerajinan tangan lokal, mengenal Lampung lebih dekat, meski hanya lewat sepotong oleh-oleh.

Namun, setiap keberhasilan selalu diiringi dengan tantangan. Pemeliharaan jalan tol agar tetap dalam kondisi prima menjadi perhatian utama. Selain itu, literasi ekonomi masyarakat lokal juga perlu ditingkatkan agar mereka bisa memanfaatkan peluang yang ada.

“Banyak masyarakat yang belum tahu cara mengelola bisnis dengan baik,” ujar Wahyu, seorang pengelola rest area. “Pelatihan UMKM harus digencarkan agar mereka bisa lebih profesional.”

Di sisi lain, kebutuhan akan keamanan dan kenyamanan pengguna jalan juga terus menjadi sorotan. Beberapa laporan kecelakaan di jalan tol menunjukkan bahwa edukasi keselamatan berkendara masih perlu ditingkatkan.

Tol Bakauheni-Terbanggi Besar adalah lebih dari sekadar jalan. Ia adalah saksi perubahan zaman, di mana infrastruktur menjadi katalisator transformasi sosial-ekonomi. Dari pelaku UMKM hingga pelaku industri besar, semua mendapat tempat untuk berkembang.

Bagi wisatawan, tol ini adalah jembatan menuju surga tersembunyi Lampung. Bagi masyarakat lokal, ia adalah harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Dan bagi Indonesia, ia adalah langkah maju menuju pemerataan pembangunan.

Di tepi jalan tol itu, di bawah sinar matahari yang mulai meninggi, Pak Dirman tersenyum lagi. Satu mobil berhenti, seorang pembeli datang. Di tangan pembeli itu, sepotong kecil Lampung akan dibawa ke tempat jauh. Seperti ruas tol ini, yang membawa Lampung ke dunia yang lebih luas.

Penulis: M. Misaf Khandiasih

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0