KLB DBD di Metro: DPRD soroti kesiapan Dinkes dan RSUDKetua Komisi II DPRD Kota Metro, Ancilla Hernani. [ADVERTORIAL]

HomeBerita

KLB DBD di Metro: DPRD soroti kesiapan Dinkes dan RSUD

"Kami mendesak Dinas Kesehatan dan seluruh rumah sakit di Kota Metro untuk memperkuat layanan kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus DBD yang sebagian besar berasal dari luar daerah." - Ancilla Hernani.

DPRD Metro setujui Raperda LKPJ APBD 2020
Hearing DPRD Metro soal stimulus PBB-P2 belangsung alot
Lapangan rusak, bakat sepak bola Metro terancam? Deswan minta Pemkot bergerak

MEDIATOR.ID, Metro – Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Ancilla Hernani, mendesak Dinas Kesehatan (Dinkes) dan seluruh rumah sakit di Kota Metro untuk memperkuat layanan kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang telah mencapai status Kejadian Luar Biasa (KLB). Menurut Ancilla, sebagian besar pasien DBD yang dirawat di rumah sakit di Kota Metro berasal dari luar daerah, Rabu, 15 Januari 2025.

“Kami mendesak Dinas Kesehatan dan seluruh rumah sakit di Kota Metro untuk memperkuat layanan kesehatan dalam menghadapi lonjakan kasus DBD yang sebagian besar berasal dari luar daerah,” ujar Ancilla Hernani.

Data dari Dinas Kesehatan Kota Metro menunjukkan peningkatan signifikan kasus DBD, dari 122 kasus pada tahun 2023 menjadi 735 kasus sepanjang tahun 2024, atau meningkat lebih dari 600 persen. Lonjakan ini menyebabkan Kota Metro ditetapkan sebagai daerah dengan status KLB DBD.

Ancilla menjelaskan bahwa lonjakan jumlah pasien DBD di rumah sakit di Kota Metro terjadi akibat kiriman pasien dari berbagai daerah di sekitar Kota Metro. “Dari hasil rapat, diketahui bahwa memang terjadi peningkatan sebesar 600 persen untuk DBD dan statusnya sudah jadi KLB,” katanya.

Komisi II DPRD Kota Metro telah memanggil Dinas Kesehatan dan seluruh jajaran rumah sakit pemerintah maupun swasta di Metro untuk rapat dengar pendapat (RDP). Ancilla menyebut bahwa pihaknya sudah sejak jauh hari mengingatkan OPD terkait untuk antisipasi dan melakukan tindakan preventif dalam menangani DBD yang memang telah menjadi siklus 5 tahunan.

“Kami sudah menghubungi Kadis Kesehatan untuk mengingatkan antisipasi, melakukan tindakan preventif untuk DBD yang memang sudah menjadi siklus 5 tahunan,” imbuhnya.

Ancilla mengimbau masyarakat agar mewaspadai wabah DBD, terutama di musim peralihan cuaca yang berpotensi meningkat, yakni antara Januari hingga Februari 2025 mendatang.

“Pertama, jangan terlalu panik. Tetap jaga kesehatan dengan melakukan tindakan pencegahan, serta membiasakan diri untuk menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat atau PHBS,” tandasnya.

Dinas Kesehatan Kota Metro telah mengimplementasikan dua strategi utama: Gerakan Bersama Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan Pemberantasan Jentik Berkala (PJB). Kedua langkah ini bertujuan untuk mengurangi jumlah vektor penyakit dan meminimalkan risiko penyebaran DBD.

Kepala Dinkes Kota Metro, Dr. Eko Hendro Saputra, menekankan pentingnya gerakan bersama dalam menangani masalah ini. “PSN adalah gerakan kolektif yang melibatkan masyarakat, Puskesmas, dan berbagai pihak lainnya untuk membersihkan lingkungan dari potensi perindukan nyamuk. Kebersihan lingkungan adalah kunci utama dalam mencegah penyebaran DBD,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Kota Metro, Bangkit Haryo Utomo, menyatakan bahwa penanganan kasus DBD menjadi prioritas utama.

“Pemkot Metro terus memantau dan mengkaji situasi kasus DBD ini, termasuk menugaskan Dinas Kesehatan dan rumah sakit untuk memastikan kesiapan menghadapi lonjakan,” katanya.

Ia menegaskan, optimalisasi tugas pokok dan fungsi (tupoksi) puskesmas menjadi kunci dalam menghadapi krisis kesehatan ini. Pemkot juga mendorong masyarakat untuk meningkatkan peran serta dalam upaya pencegahan.

Ancilla Hernani menyoroti bahwa meskipun sebagian besar pasien DBD yang dirawat di rumah sakit di Kota Metro berasal dari luar daerah, hal ini tetap menjadi tanggung jawab bersama.

“Ini menjadi catatan khusus bagi pihak rumah sakit dan Dinkes, bahwa jumlah pasien DBD meningkat sebanyak 600 persen. Akan tetapi, dari data yang dihimpun dan langsung dikroscek saat RDP, ditemukan data pasien yang naik 600 persen itu, ternyata mereka bukan warga Kota Metro,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, Dinas Kesehatan, rumah sakit, dan masyarakat dalam menghadapi wabah DBD.

“Komisi II DPRD Kota Metro terus melakukan koordinasi dengan pihak terkait, konsisten dan selalu memonitor perkembangan sebaran penyakit DBD,” pungkasnya. [ADVERTORIAL]

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0