Pengusaha tahu keluhkan tingginya harga kedelaiSuasana lokasi produksi tahu

HomeBerita

Pengusaha tahu keluhkan tingginya harga kedelai

"Kami berharap pemerintah punya solusi terkait tingginya harga kedelai, serta dapat menormalkan harga, agar usaha yang saya rintis sejak lima tahun lalu ini tidak gulung tikar."

SMP MUAD Metro pertahankan dominasi di LCC Kebudayaan dan Permuseuman
RSUDAY pinta kritik dan saran untuk memaksimalkan pelayanan 
KONI Provinsi Lampung ajak KONI Metro kembangkan potensi atlet

MEDIATOR.ID, Metro — Harga kedelai terus beranjak naik, Pengusaha rumahan pengolahan kacang kedelai menjadi tahu di Kota Metro mengeluhkan hal tersebut.

Dampaknya, dengan naiknya harga tersebut beberapa dari pengusaha rumahan tersebut nyaris gulung tikar lantaran biaya produksi tidak sebanding dengan apa yang didapat.

Seperti yang dialami Ahmad, warga Jalan Kaca Piring Kelurahan Mulyojati, Kecamatan Metro Barat ini, sudah satu minggu tidak memproduksi tahu karena tingginya harga kedelai.

“Sudah seminggu ini kami tidak memproduksi tahu, kami bingung untuk menyiasati tingginya harga kacang kedelai. Bila harga tahu ikut dinaikkan, kami takut pelanggan lari, mau kami kecilkan ukurannya, mau sekecil apa lagi,” keluh dia saat dikonfirmasi, Selasa, 22 Februari 2022.

Hal senada juga disampaikan Suroto, pengelolaan industri tahu rumahan di Jalan Tangkil Kelurahan Mulyojati, Kecamatan Metro Barat. Ia mengaku sudah dua tahun mendapatkan sedikit keuntungan dari penjualan tahu tersebut.

“Kurun waktu hampir dua tahun, semenjak wabah Covid-19 datang, harga kacang kedelai naik dua kali lipat, dari harga Rp6.000 kini Rp12.000, kami terus coba bertahan meskipun tidak mendapatkan keuntungan,” ucapnya.

Ia juga menyampaikan, alasan dirinya tetap bertahan adalah agar para pekerja di tempanya bisa terus mendapatkan penghasilan.

“Kami punya lima orang tenaga kerja, kalau kami berhenti, mereka mau kemana. Sekarang saja kami hanya bisa mengolah satu kuintal kedelai, selain harganya mahal, minat masyarakat juga sudah mulai berkurang akibat pandemi Covid-19,” ungkapnya.

“Dari penjualan tahu sekarang, keuntungan per hari hanya 200 ribu, itu belum dipotong belanja plastik, listrik, upah pegawai dan lainnya,” tambah dia.

Dia juga mengaku kebingungan menyikapi tingginya harga kedelai tersebut.

“Kami berharap pemerintah punya solusi terkait tingginya harga kedelai, serta dapat menormalkan harga, agar usaha yang saya rintis sejak lima tahun lalu ini tidak gulung tikar,” pungkasnya. (Aes)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 1