"Tapi, satu hal yang tidak bisa dipungkiri, bahwa para warga di waktu itu sangat senang saat cerita mereka didengar dan bisa ngobrol langsung dengan Djohan."
Waktu bergulir seperti embusan angin, membawa serta harapan dan keluh kesah manusia yang bernaung di bawah atap-atap sederhana Kota Metro. Jalanan pasar Kopindo berdebu, hiruk-pikuk kendaraan membaur bersama terik matahari, seakan menjadi simfoni kehidupan. Di sudut kecil ini, percakapan tentang masa depan kota mengalir tanpa batas, menyeruak dari bibir-bibir warga yang sering kali dianggap kecil namun menyimpan hikmah besar.
Hari itu, di antara gelak tawa dan kepulan asap kopi di Kantin Pos Uni, sebuah warung sederhana yang menjadi saksi perbincangan banyak cerita, saya dan Kiki Anggi Prayudha, seorang jurnalis yang rajin mencatat denyut nadi masyarakat, berbagi secangkir kopi hitam. Namun, di antara obrolan ringan, sebuah tema berat mengemuka: Pilkada Kota Metro 2024.
Sebagaimana pena yang kehilangan ujung tajamnya, Kota Metro hari ini terasa tumpul, terjebak dalam siklus birokrasi yang melilit. Di tengah kekalutan itu, satu pertanyaan mencuat: siapakah sosok yang mampu mengembalikan kejayaan kota ini?
Langkah kaki kami membawa ke lapak Rohim, seorang tukang servis jam yang piawai berbincang. Di tempat sederhana itu, diskusi mengalir, menghubungkan berbagai cerita dari pelosok kota hingga belantara isu global. Palestina, dinasti politik, hingga nama-nama yang mencuat sebagai calon pemimpin menjadi topik hangat. Namun, di antara semua nama, satu sosok berkali-kali disebut: Djohan.
Rohim, dengan ketulusan seorang rakyat kecil, berbicara tentang kebiasaan Djohan yang kerap menyapa warga saat jogging di taman kota. “Entah survei atau bukan, rasanya menyenangkan ketika seorang pemimpin mau mendengar cerita kami,” tuturnya sambil merapikan sekrup jam tangan. Baginya, Djohan bukan hanya sekadar pemimpin, tetapi seorang yang berusaha menyentuh hati rakyatnya, meski hanya dengan senyuman dan obrolan singkat.
Yoga, seorang pedagang pasar, menambahkan bahwa Djohan adalah pemimpin yang tidak hanya hadir sebagai simbol, tetapi menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat. “Dia sering datang ke pasar, ngobrol sama kami. Tidak banyak yang seperti itu,” katanya dengan mata yang menyiratkan harapan.
Kisah lain datang dari Rasyid, tukang parkir senior yang bercerita tentang sumur bor yang dibangun Djohan di lingkungan tempat tinggalnya. Bagi Rasyid, itu bukan sekadar proyek kecil, melainkan bukti nyata bahwa Djohan memahami kebutuhan warganya. “Lapangan bulu tangkis pun diperbaiki waktu itu. Rasanya seperti ada yang benar-benar peduli,” ucapnya, seakan mengukuhkan keyakinannya untuk mendukung Djohan jika maju dalam Pilkada mendatang.
Melalui cerita-cerita ini, terlihat bahwa Djohan telah menanam benih kepercayaan di hati rakyat. Ia mungkin bukan pemimpin yang sempurna, tetapi bagi banyak warga, ia adalah simbol harapan dalam kesederhanaan.
Kota Metro adalah ruang yang menyimpan cerita-cerita kecil namun penuh makna. Dalam percakapan sederhana di lapak Rohim, saya belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal visi besar, tetapi juga tentang keberanian untuk hadir dan mendengar. Djohan, dengan segala keterbatasannya, telah menunjukkan bahwa seorang pemimpin sejati adalah mereka yang berjalan bersama rakyat, tidak di atas atau jauh di depan mereka.
Nama Djohan yang berulang kali disebut bukanlah sekadar kebetulan. Ia adalah refleksi dari kerinduan akan pemimpin yang mampu menjahit kembali jalinan kehidupan kota yang terasa tercerai-berai. Kehadirannya di pasar, taman, dan pemukiman warga memberi warna tersendiri yang sulit dilupakan.
Pilkada 2024 bukan hanya soal memilih pemimpin, tetapi tentang mengukir masa depan. Kota Metro, dengan segala keunikannya, membutuhkan seseorang yang tidak hanya pandai bicara, tetapi juga mampu melangkah bersama rakyat. Sosok seperti Djohan, yang telah meninggalkan jejak di hati banyak warga, menjadi pengingat bahwa kepemimpinan adalah tentang hubungan yang tulus dan nyata.
Di akhir obrolan hari itu, saya termenung di bawah langit yang perlahan memerah. Seperti tugu pena yang tengah diubah menjadi tugu spidol, Kota Metro juga membutuhkan transformasi. Namun, perubahan sejati hanya dapat terwujud jika pemimpin dan rakyat saling melengkapi, seperti puisi yang menemukan jiwa dalam setiap kata-katanya.
Dan kepada pemimpin yang akan datang, pesan ini terukir: jadilah cahaya di balik pena yang retak, membawa terang ke dalam lorong-lorong gelap kota, hingga setiap sudutnya kembali hidup dengan harmoni dan cinta. Kota Metro merindukan jiwa, bukan sekadar nama.
Penulis: Muhammad Misaf Khan

COMMENTS