"Reses ini bukan sekadar pertemuan formal, tetapi momentum untuk mendengar, memahami, dan bersama-sama mencari solusi bagi Kota Metro yang lebih baik." - Wasis Riyadi.
Sungai kecil di pinggiran Kota Metro berkeluh kesah pada angin. Alirannya tersendat, suaranya serak, seperti tenggorokan yang tersumbat. Plastik-plastik menggantung di ranting pohon yang mencelupkan akarnya ke air. Bungkus makanan mengapung, terombang-ambing di antara sampah-sampah lain yang mengendap di dasar. Pernah menjadi cermin langit bagi anak-anak yang bermain di tepinya, kini ia berubah menjadi kuburan limbah, tempat di mana kehidupan pelan-pelan dicekik oleh tangan manusia yang lupa cara menghormati alam.
Siang yang hangat membawa langkah-langkah warga ke sebuah aula sederhana di Kelurahan Iringmulyo, Metro Timur. Orang-orang berkumpul, bukan sekadar untuk berbincang, melainkan mencari jawaban atas pertanyaan yang menggantung di benak mereka: bagaimana mengakhiri penderitaan kota dari ancaman banjir yang semakin sering datang?
Wasis Riyadi, seorang anggota DPRD Kota Metro, berdiri di hadapan mereka. Wajahnya tenang, suaranya mantap, membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan yang mulai tergerus oleh kebiasaan buruk masyarakat. “Isu lingkungan di Kota Metro tidak kalah penting dibanding infrastruktur,” ucapnya. “Budaya buang sampah sembarangan ini tentu berdampak pada persoalan banjir.”

Kalimatnya sejenak menggantung di udara, mengajak setiap orang yang hadir untuk berpikir lebih dalam. Bukan sekadar mendengar, melainkan merasakan, membayangkan bagaimana sampah yang mereka buang dengan enteng berakhir di selokan, menyumbat arus, lalu meluap dalam bentuk bencana.
Sampah, Dosa Kecil yang Berbuah Petaka
Membuang sampah sembarangan adalah tindakan kecil dengan konsekuensi besar. Selembar plastik yang terbang tertiup angin, botol air mineral yang dilempar dari jendela kendaraan, atau sisa makanan yang dibuang ke sungai—semua itu perlahan menumpuk menjadi ancaman nyata bagi lingkungan.
Tanah yang seharusnya menjadi tempat bagi akar pohon untuk bernapas tertutup oleh limbah yang tak dapat terurai. Hewan-hewan liar yang mencari makan justru menelan plastik yang menyamar sebagai makanan. Sungai dan laut, yang sejak dulu menjadi sumber kehidupan, kini berubah menjadi tempat pembuangan sampah yang meracuni airnya sendiri.
Plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai. Itu berarti setiap botol atau kantong plastik yang dibuang sembarangan akan tetap ada di sana, menjadi warisan buruk bagi generasi mendatang. Jika kebiasaan ini terus berlangsung, maka anak-cucu kita tidak hanya mewarisi kota yang indah, tetapi juga sampah yang bertumpuk dan air yang tercemar.
Saluran Air yang Tersumbat, Banjir yang Tak Terhindarkan
Hujan turun, membawa harapan bagi sawah yang mengering, namun juga membawa keresahan bagi kota yang lingkungannya tak terawat. Selokan yang seharusnya menjadi jalur pelepasan air hujan justru berubah menjadi penjara bagi aliran itu sendiri. Sampah menumpuk, air mencari jalan keluar yang tak lagi tersedia, dan pada akhirnya menggenang, merayapi jalanan, halaman rumah, bahkan masuk ke ruang-ruang yang seharusnya terlindung.
Ironisnya, ketika banjir datang, banyak yang menyalahkan pemerintah. Lupa bahwa tangan-tangan mereka sendiri yang melemparkan sampah ke tempat yang bukan seharusnya. Pemerintah memang memiliki peran besar dalam mengatasi persoalan ini, tetapi masyarakat juga memegang kendali atas lingkungan di sekitar mereka.
“Bukan hanya pemerintah yang bertanggung jawab,” ujar Wasis Riyadi. “Kondisi lingkungan yang bersih menjadi salah satu upaya pengentasan banjir di Kota Metro. Mari biasakan untuk membuang sampah pada tempatnya.”
Pemerintah dan Tanggung Jawabnya
Menjadikan kota yang bersih dan bebas banjir bukan hanya tugas satu pihak. Pemerintah memiliki tanggung jawab besar, bukan sekadar sebagai pengatur kebijakan, tetapi juga sebagai penggerak perubahan budaya.
Penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten. Peraturan tentang pembuangan sampah sembarangan sudah ada, tetapi tanpa pengawasan dan sanksi yang tegas, masyarakat cenderung mengabaikannya. Denda yang besar dan sanksi sosial dapat menjadi efek jera yang efektif.

Selain itu, fasilitas pengelolaan sampah harus ditingkatkan. Percuma melarang masyarakat membuang sampah sembarangan jika tempat sampah tidak tersedia atau sistem pengangkutan sampah tidak berjalan optimal. Penyediaan bank sampah, tempat pengolahan sampah terpadu, serta program daur ulang yang masif harus menjadi prioritas.
Pendidikan juga memegang peran penting. Kurikulum sekolah harus mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, bukan hanya sebagai teori, tetapi juga dalam praktik nyata. Program kerja bakti wajib, proyek daur ulang, atau insentif bagi sekolah yang sukses mengurangi sampah bisa menjadi langkah strategis dalam membentuk karakter generasi yang lebih peduli lingkungan.
Kampanye publik yang kreatif juga perlu digalakkan. Media sosial, televisi, dan ruang publik harus dimanfaatkan untuk menyebarkan pesan tentang bahaya sampah sembarangan. Program penghargaan bagi komunitas atau individu yang aktif dalam pengelolaan sampah bisa menjadi motivasi bagi masyarakat untuk lebih peduli.
Masyarakat dan Kesadaran yang Harus Dibangun
Camat Metro Timur, Ferry Handono, menyampaikan bahwa reses ini merupakan momentum penting untuk memperkuat komunikasi antara masyarakat dan pemerintah. “Dengan adanya pertemuan ini, diharapkan berbagai persoalan yang dihadapi warga dapat segera ditindaklanjuti dan dicarikan solusi terbaik,” ujarnya.
Namun, kebijakan dan pertemuan tidak akan berarti tanpa perubahan di tingkat individu. Setiap orang harus merasa memiliki tanggung jawab terhadap lingkungan. Kesadaran bahwa membuang sampah sembarangan berarti merusak kehidupan sendiri harus ditanamkan sejak dini.
Masyarakat yang hadir dalam reses itu menyambut baik langkah DPRD Kota Metro dalam mendekatkan diri kepada warga. Mereka berharap kebijakan yang diambil nantinya lebih tepat sasaran dan membawa manfaat nyata bagi daerah mereka. Namun, harapan itu harus dibarengi dengan tindakan nyata dari setiap individu.
Alam Tidak Pernah Salah, Kitalah yang Harus Berbenah
Sungai yang tenang dapat menjadi arus deras yang menghancurkan jika tak diberi ruang untuk mengalir. Sampah yang dianggap sepele dapat menjadi monster yang menelan kota dalam genangan banjir. Alam tidak pernah salah, kitalah yang sering lalai.
Jika kebiasaan membuang sampah sembarangan terus dibiarkan, maka bencana bukan lagi sekadar ancaman, melainkan kenyataan yang akan terus berulang. Mengubah kebiasaan memang tidak mudah, tetapi harus dimulai.
Bukan sekadar membuang sampah pada tempatnya, tetapi juga mengurangi produksi sampah, memilahnya, dan mengelolanya dengan bijak. Setiap tindakan kecil memiliki dampak besar. Setiap langkah menuju kesadaran lingkungan adalah langkah menuju masa depan yang lebih baik. (Adv)

COMMENTS