Serap aspirasi, wujudkan kepedulian: perjuangan insentif guru mengaji dalam Reses DPRD Metro TimurAnggota DPRD Kota Metro, Sutikno. (ADV)

HomeBerita

Serap aspirasi, wujudkan kepedulian: perjuangan insentif guru mengaji dalam Reses DPRD Metro Timur

"Kami tidak ingin ada guru mengaji yang harus berjuang sendirian dalam keterbatasan, sementara mereka telah berjasa menjaga moral generasi." - Sutikno.

Reses Wasis Riyadi: mengurai benang Kusut sampah dan banjir di Kota Metro
DPRD tagih janji Walikota Metro
Serap aspirasi warga, Ketua DPRD Metro prioritaskan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat

MEDIATOR.ID, Metro – Bagian pinggir perkotaan menyimpan kisah yang jarang tersorot. Dalam ruang sederhana, suara lembut seorang guru mengaji mengalun, membimbing anak-anak mengeja aksara suci, menanamkan makna dalam hati yang masih bening. Ketulusan terpancar dalam setiap nasihat yang disampaikan, namun ada kegelisahan yang tak terucap—tentang bagaimana ia bisa terus bertahan, mengabdi tanpa kepastian, sementara kehidupannya sendiri penuh keterbatasan.

Arus modernisasi terus bergerak, membawa perubahan dalam hampir setiap aspek kehidupan. Namun, dalam dinamika itu, penghargaan terhadap mereka yang berperan membentuk moral generasi muda sering kali tertinggal. Guru mengaji tidak menuntut kemewahan, tetapi sepatutnya tidak pula dibiarkan berjuang sendirian dalam sunyi.

Saat menggelar reses di Kelurahan Tejosari, Kecamatan Metro Timur, Anggota DPRD Kota Metro dari Fraksi PKB, Sutikno, menegaskan komitmennya dalam memperjuangkan kesejahteraan guru mengaji.

“Kita dorong lagi penambahan insentif bagi guru mengaji, kaur, dan lainnya. Untuk guru mengaji, kita sudah sampaikan kepada camat agar diajukan supaya penerimaannya merata. Jika tak memadai, bisa juga dilakukan secara bergantian dalam penerimaan insentif. Evaluasi akan dilakukan karena ada beberapa Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) yang tidak aktif tetapi masih menerima insentif. Nantinya, akan dialihkan kepada TPQ yang baru dan benar-benar aktif dalam kegiatannya,” ujarnya.

Menghargai Mereka yang Menghidupkan Cahaya
Saban hari, sebelum fajar benar-benar menyingsing, langkah-langkah kecil mendatangi rumah-rumah tahfiz, musala, dan langgar. Anak-anak yang masih setengah mengantuk duduk bersila, menghadap sosok yang bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing kehidupan. Dari bibir mereka, ayat-ayat suci meluncur dengan pelafalan yang terkadang masih tertatih, namun semangat untuk memahami begitu besar.

Mereka yang mengabdikan diri sebagai guru mengaji tidak sekadar menyampaikan ilmu. Lebih dari itu, ada misi besar yang mereka emban—menanamkan nilai-nilai luhur, membentuk karakter, serta menjaga generasi agar tidak tercerabut dari akar spiritualnya.

Namun, dedikasi itu sering kali berhadapan dengan realitas yang pahit. Pendapatan yang minim, bahkan tidak tetap, membuat banyak guru mengaji hidup dalam keterbatasan. Tidak sedikit yang harus mencari pekerjaan sampingan agar dapur tetap mengepul, meski itu berarti mengurangi waktu untuk mengajar.

Langkah Kecil Menuju Perubahan Besar
Usulan penambahan insentif bagi guru mengaji menjadi langkah yang patut diapresiasi. Sebuah pengakuan bahwa peran mereka dalam membangun bangsa tidak boleh diabaikan. Inisiatif ini tidak sekadar soal kesejahteraan, tetapi juga tentang bagaimana memastikan pendidikan agama tetap terjaga dengan baik.

Sutikno menekankan bahwa upaya ini bukan hanya wacana, tetapi harus diwujudkan dalam kebijakan konkret.

“Jika negara dan masyarakat mengakui pentingnya pendidikan agama dalam membentuk karakter bangsa, maka mereka yang berada di garda depan harus mendapatkan dukungan yang layak. Insentif ini bukan hanya bentuk apresiasi, tetapi juga cara agar mereka bisa lebih fokus dalam mendidik tanpa dihantui persoalan ekonomi,” tegasnya.

Pemerataan penerimaan insentif menjadi hal yang harus diperhatikan. Tidak adil jika ada guru yang sudah tidak aktif masih menerima, sementara yang masih giat mengajar justru luput dari perhatian. Evaluasi menyeluruh diperlukan agar kebijakan ini benar-benar berdampak pada mereka yang membutuhkan.

Menjaga Semangat dan Kualitas Pengajaran
Ketika insentif diberikan dengan layak, banyak hal yang bisa diperbaiki. Guru mengaji dapat meningkatkan metode pembelajaran, membeli bahan ajar yang lebih baik, atau bahkan mengikuti pelatihan yang dapat memperkaya cara mengajar. Semua ini bermuara pada satu tujuan: memastikan anak-anak mendapatkan pendidikan agama yang berkualitas.

Lebih dari itu, insentif juga menjadi bentuk penghormatan terhadap waktu, tenaga, dan ilmu yang mereka curahkan. Jika masyarakat menganggap pendidikan agama sebagai bagian penting dalam kehidupan, maka sudah seharusnya mereka yang berada di garis depan mendapatkan perhatian lebih.

Sutikno menegaskan bahwa insentif ini juga merupakan bentuk tanggung jawab sosial yang harus ditunaikan oleh pemerintah dan masyarakat.

“Kita semua harus sadar bahwa guru mengaji adalah bagian dari pendidikan moral dan spiritual bangsa. Tanpa mereka, anak-anak kita bisa kehilangan pegangan dalam memahami ajaran agama dengan baik,” katanya.

Membangun Masa Depan dengan Fondasi yang Kokoh
Pendidikan agama tidak boleh dipandang sebelah mata. Ia menjadi benteng terakhir dalam menjaga moral generasi. Ketika nilai-nilai spiritual mulai terpinggirkan, berbagai masalah sosial dengan mudah menjamur—krisis etika, pergaulan bebas, hingga hilangnya rasa hormat terhadap sesama.

Dalam situasi ini, guru mengaji memegang peranan penting sebagai penjaga moral. Mereka bukan hanya mengajarkan bagaimana membaca kitab suci, tetapi juga menanamkan kebijaksanaan dalam memahami kehidupan. Menghargai mereka berarti menghargai masa depan yang lebih baik, sebuah masyarakat yang lebih beradab dan harmonis.

Sutikno berharap agar usulan ini mendapat perhatian penuh dari pemerintah daerah dan tidak berhenti sebatas pembahasan.

“Kita harap pemerintah merespons ini dengan baik. Insentif yang layak untuk guru mengaji bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kepedulian kita bersama sebagai masyarakat. Jangan sampai mereka yang telah berjasa membentuk karakter generasi penerus justru dibiarkan berjuang sendiri,” tutupnya.

Saatnya Bertindak
Penambahan insentif bagi guru mengaji harus dipandang sebagai investasi jangka panjang. Pemerintah memiliki tanggung jawab untuk mengalokasikan anggaran yang memadai, sementara masyarakat juga dapat berkontribusi melalui dukungan moril maupun materi.

Mereka yang telah berjasa dalam membentuk karakter generasi penerus tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian. Sebuah bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pendidiknya—dan guru mengaji adalah bagian penting dari itu. (Adv)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: