Anis Baswedan bapak politik HMIAlumni IAIN Metro, Dede Maulana Yusuf. (Red)

HomeOPINI

Anis Baswedan bapak politik HMI

"Perjalanan politik Anies penuh dibumbui banyak drama yang begitu panjang, walaupun dia tidak jadi dicalonkan, namanya kini disebut-sebut bisa memberi efek kemenangan bagi calon gubernur yang sedang bersaing di Jakarta."

Menguji optimisme pelatih Timnas Indonesia dalam kualifikasi piala dunia 2026
Kesenjangan kode etik jurnalistik terhadap hak asasi pelaku asusila
KPU tidak profesional: menantang integritas Pemilu dan demokrasi

Kekalahan demi kekalahan terpaksa harus dialami oleh Anis Rasyid Bawedan, mulai dari pentas pemilihan Presiden sampai pemilihan Kepala Daerah, dengan terpaksa harus menerima kenyataan itu setelah tidak mendapatkan satupun rekomendasi partai politik untuk maju Pilgub Jakarta.

Anies Baswedan memiliki pembawaan luwes yang memungkinkannya untuk tetap stabil ketika menghadapi perdebatan tentang dirinya, karena kemampuan merangkai kata-kata. Namun kita perlu juga mencurigai mengapa Anies Baswedan sebegitu berambisinya menduduki tahta kekuasaan, karena sudah banyak contoh penguasa setelah duduk dibangku kekuasaan, dia lupa dengan kewajibannya. Apakah anies tidak akan seperti itu?

Perjalanan politik Anies penuh dibumbui banyak drama yang begitu panjang, walaupun dia tidak jadi dicalonkan, namanya kini disebut-sebut bisa memberi efek kemenangan bagi calon gubernur yang sedang bersaing di Jakarta.

Ketiga calon Gubernur Jakarta ingin datang dan menemui Anies agar suara pendukung panatiknya “anak abah” memilih salah satu paslon sesuai intruksi dia. Mereka berjanji akan meneruskan kebijakan yang sudah dilakukan anies selama memimpin Jakarta kemarin.
Kisah perjuangan Anies Baswedan mendapatkan rekomendasi partai memang tidak mudah, banyak isu yang dilemparkan kepada dirinya, puncaknya, partai yang pernah menjadi pengusungnya pun untuk maju Pilkada Jakarta, tiba-tiba terkena badai konflik diinternal, katanya diciptakan kekuasaan sebagai cara untuk “menjegal” Anies agar tidak maju.

Kiprah Anies Baswedan dalam politik banyak yang memperdebatkan, mulai yang baik hingga terburuk sekalipun, bahkan ada yang menelisik kepibadian dan pembawaannya telah memberi keputusan yang salah, sehingga dia batal dicalonkan PDIP kemarin. Ada juga yang mengatakan perjuangannya maju dipilgub Jakarta adalah salah salah satu cara mengambil Start awal untuk maju pada Pilpres 2029.

Pertentangan dan perdebatan mengenai gaya kepemimpinan dalam politik tentu menjadi hal yang biasa, namun ketika ada banyak kasus miring menguntit dibelakangnya, tentunya membuat banyak yang mempertanyakan, “ada apa sebenarnya dibalik itu semua”?

Anies Baswedan memang menampilkan kesan yang berbeda, kesannya yang tidak bisa diinterpensi seketika menghidupkan “imagi”, kelak ketika dia memimpin, bangsa ini tidak bisa ditekan, termasuk bisa keluar dari tekanan politik uang dan politik jabatan hanya sekedar ingun menang Pemilu.

Anies Baswedan ketika berbicara memang tidak berapi-api, terutama saat menghadapi kritikan yang dilayangkan kepadanya, dia hanya perlahan-lahan berbicara, semua pertanyaan menjawab dengan ungkapan-ungkapan yang bijak, sehingga tidak memperkeruh suasana kritikan.

Anies Baswedan sempat menjadi calon Presiden, namun tidak berhasil menjadi calon Gubernur, tetapi sebagai seseorang yang tidak dikenal sebagai politisi sejak awal dikenal oleh publik, dia bisa dihitung memiliki cukup nyali melangkahkan kakinya diwilayah politik, dia tetap melakukan lawatan-lawatan ke berbagai daerah walaupun tidak jadi mencalonkan diri dipilgub Jakarta 2024.

Dihadapan lawan politik dan koleganya, mungkin Anies Baswedan seperti pisau yang memiliki dua sisi, satu sisi bisa menimbulkan luka, sedangkan sisi yang lain bisa mendatangkan kemanfaatan bagi orang lain jika berada dilingkungan yang tepat. Dia juga bukan orang yang sedang mempertahankan “status quo” atau sedang membangun legacy politik yang sewaktu-waktu bisa dipakai menjadi barang dagangan tatkala menjelang masa kampanye dimulai. Anies juga tidak memiliki resisten dengan elit politik manapun, sehingga dia layak didukung dan dicalonkan sebagai kandidat pemimpin.

Anies Baswedan menjadi salah satu penantang potensial, hal itu menjadi wajar, karena “track rechord”-nya sudah terbangun sejak masanya kuliah, dia aktif diberbagai kegiatan kemahasiswaan, seperti organisasi mahasiswa yang berbasis literasi dan penelitian, dia juga pernah menjadi senat Mahasiswa, dia juga merupakan salah satu aktivis Himpunan Mahasiswa Islam yang memiliki corak berfikir “Pluralisme”.

Dia bisa dihitung memiliki kemampuan Lidership yang cukup baik dengan caranya menempatkan diri dikala terjadi keriuhan suasana dalam politik memanas, sebagai mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam, Anies Baswedan tentunya faham dinamika dalam politik memerlukan seni kepememimpinan yang cair dan percaya pada pengetahuan, bukan sepenuhnya percaya pada pembisik agar api politik bisa padam.
Corak kepemimpinan yang terbuka dan fair tanpa melihat siapa yang membuat masalah memang diajarkan oleh organisasi besar seperti HMI, begitu juga anies baswedan yang selalu mengedepankan prinsip inklusifitas dalam mengambil setiap keputusan. Dia juga selalu mengatakan memberikan kesempatan yang sama merupakan metode untuk memeritokrasi birokrasi Negeri ini yang memang sudah ketinggalan zaman.

Setelah gagalnya Anies dalam prosesi awal mengikuti “Pemilukada”, dia tidak ingin berlarut-larut dalam kegagalannya yang kemarin, dia menyampaikan sikap ingin mendirikan Ormas/partai politik untuk mewadahi masyarakat yang menginginkan perubahan untuk Bangsa Indonesia.
Anies Baswedan juga sedang menghadapi sebuah realita lawan-lawan semu yang bisa mamaksanya berdikusi dengan halus atau berdiskusi dengan keras dibalik panggung, hal itu dilakukan untuk mencegah terjadinya pragmatisme politik hanya sekedar merebut hati para pemilih.

Tetapi jika seandainya ormasnya/partainya berdiri, apakah Anies Baswedan mau bersumpah ditengah-tengah keramaian dengan disaksikan oleh 25,22 juta Masyarakat miskin sebagai mandatnya agar tidak mengulang lagi kesalahan yang sama oleh pemimpin sebelumnya.

Masyarakat miskin selama ini sering ditipu dan dimanfaatkan suaranya oleh politisi culas yang malas berfikir, dengan caranya memberikan sedikit amplop dan sedikit janji manis mereka menyerahkan harapannya pada politisi culas.
Masyarakat menantikan pemipin yang berfikir kritis, terutama tidak bermuka dua, dia mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan jika menghadapi banyak kritikan, dan mau membenahi diri setelah dikritik, karena selama ini para pemimpin selalu selalu acuh tak acuh jika ada masukan dari masyarakat.

Walaupun Anies Baswedan belum bisa dikatakan layak dijadikan sebagai acuan pemimpin yang ideal di Himpunan Mahasiswa Islam, upayanya memperjuangkan nasib bangsa masih dinanti, teruntuk semua kader HMI seluruh Indonesia, jika Anies bisa terpilih menjadi pemimpin Negeri ini, apakah kader HMI akan berhenti mengkritik seniornya sendiri?

Penulis: Dede Maulana Yusuf

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0