Pekalongan, Lampung Timur merupakan wilayah yang memiliki luas 110,04 km². Secara geografis, lokasi Kecamatan ini berdekatan dengan Kecamatan Batanghari Nuban dan Kota Metro.
Pekalongan, Lampung Timur merupakan wilayah yang memiliki luas 110,04 km². Secara geografis, lokasi Kecamatan ini berdekatan dengan Kecamatan Batanghari Nuban dan Kota Metro. Minggu (21/2), sekira pukul 13.35 WIB saat cuaca terik, saya mulai menjajaki wilayah yang terkenal sebagai sentra tanaman hias dan bibit buah-buahan di Lampung itu.
Banyak masyarakat Pekalongan berprofesi sebagai petani bibit dan tanaman hias. Aji Fajar Kuniawan (28), salah satu pengusaha tanaman, pada kesempatannya ikut menemani saya menyusuri titik-titik lokasi budidaya tanaman. Beragam jenis bibit dan tanaman hias di hamparan halaman depan rumah penduduk merupakan pemandangan yang akrab menemani kami menyusuri perjalanan. Sepanjang perjalanan ia menuturkan banyak perihal Pekalongan dan potensinya sebagai sentral wilayah penghasil tanaman.

Usaha tanaman yang menjadi kegandrungan masyarakat Pekalongan sudah berlangsung lama, bahkan sejak ia duduk di sekolah dasar, Fajar menceritakan, jenis tanaman yang terpampang di lapak sepanjang bahu jalan selalu berubah-ubah mengikuti trend dan musim, “Dulu saat saya SD, sepanjang pinggiran jalan di Pekalongan terdapat deretan lapak penjual tanaman, namun sekarang mulai berkurang,” kata Fajar.
Tidak ada Kabupaten/Kota khususnya di Lampung, banyak dari masyarakatnya menekuni profesi sebagai petani tanaman yang tersentral seperti di Pekalongan, selain itu, kelebihan lain ada pada harga tanaman yang cenderung lebih murah dibandingkan tempat lain. Meski begitu, Fajar masih berharap adanya uluran tangan pemerintah agar petani-petani kecil sejahtera. Mengingat, pembibitan merupakan profesi yang akrab dengannya sejak dari kecil dan dari bibit pula pundi-pundi dihasilkan untuk menyambung hidup.
“Orang tua saya petani, makanya saya tahu betul pahit manisnya menjalani usaha itu,” katanya.
Banyak hal yang luput sepengetahuan khalayak maupun konsumen perihal proses produksi yang dihadapi para petani. Seperti keterbatasan modal, hasil panen tak mancapai target hingga tanaman yang dihargai murah. Dalam kesempatannya, kami mendatangi Wijaya (29), ayah satu anak ini merupakan petani bibit yang telah menggeluti profesi tersebut selama belasan tahun. Dengan memanfaatkan halaman rumah hasil peninggalan, ia tetap survive menekuni profesinya. Jatuh bangun dalam dunia pembibitan kerap ia hadapi. Namun, sampai hari ini belum ada bentuk perhatian pemerintah yang diharapkan bisa menjawab kendala yang dihadapi.
Wijaya menyampaikan keluh kesah dunia pembibitan yang dihadapinya. Dirinya mengaku kendala yang paling krusial adalah modal. Sulitnya mendapatkan modal menjadi penghambat usahanya berkembang. Mengingat, hasil yang diperoleh harus digunakan untuk makan dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Namun di balik itu, dirinya bersyukur dan tetap istiqomah menjalani profesinya.
Selain itu, persaingan dan perbandingan harga menjadi kendala serius bagi petani kecil. Wijaya bergumam, dirinya harus rela menjual bibit hasil bertaninya dengan harga murah karena terbentur kebutuhan pokok sehari-hari. Padahal semakin lama bibit dibiarkan tumbuh, nilai jualnya pun semakin tinggi. Selama ini, ia hanya sanggup mengumpulkan pundi-pundi rejeki dari bertani sekira Rp1.700.000,- perbulan. Dari hasil tersebut ia bertahan walau dengan kondisi pas-pasan.
Dalam usahanya, Wijaya juga mengaku masih menemui kesulitan dalam menjalankan usaha karena di sekitar rumahnya belum ada irigasi. Padahal, irigasi merupakan bagian penting bagi dunia pertanian. Wijaya mengaku, dirinya kerap kali merasa kesulitan saat datang musim hujan. Hal tersebut terjadi karena sirkulasi air yang masuk ke pekarangannya tidak stabil dan menjangkau bibit yang ia tanam, Alhasil banyak tanamannya yang mati.
Masalah lainnya ada pada akses jalan. Wijaya mengatakan, ia dan petani lainnya merasa terhambat karena akses jalan rusak. Padahal, sebelum banyak warga yang mengusulkan kepada lurah setempat, walau begitu, sampai hari ini belum ada bentuk perhatian yang diberikan kepada mereka, “kalau persoalan jalan rusak, banyak warga yang keluhkan masalah itu, mas,” Ujar Wijaya.
Satu sisi, bicara perihal Pekalongan, Bupati Lampung Timur Dawam Raharjo berencana akan mendorong potensi wilayah tersebut sebagai agrowisata bibit tanaman buah dan tanaman hias, pernyataan tersebut dilontarkannya saat sebelum dilantik menjadi Bupati. Dawam mengetahui sejak lama tentang potensi Pekalongan sebagai tempat yang dikenal sebagai sentra bibit tanaman tersebut. Ia juga memberikan apresiasi, bahwa Pekalongan merupakan wilayah yang membawa Lampung Timur unggul dalam satu bidang khusus, “Pekalongan terkenal dengan tanamannya, itu merupakan salah satu keunggulan bagi Lampung Timur. Ke depan, Pekalongan akan dorong menjadi agrowisata,” kata Dawam saat diminta pandangan mengenai Pekalongan. Dirinya berjanji, akan fasilitasi dan kembangkan agar lebih besar lagi.
Penulis: Msf

COMMENTS