Mencandra Kehidupan, Membumikan Filsafat untuk Profesional

HomeBUKU

Mencandra Kehidupan, Membumikan Filsafat untuk Profesional

Profesi tidak begitu saja dapat direduksi menjadi usaha survive demi sesuap nasi atau sebagai alat mengisi kekosongan waktu. Lebih dalam lagi, karena profesi nyatanya turut membentuk identitas dan karakter seseorang. Dia menjadi bagian pencarian makna hidup dan kebahagiaan. Profesi memang berkaitan dengan manusia itu sendiri. Jalan satu-satunya menjadi manusia dengan menghayati seluruh aspek secara human, termasuk juga profesi. 

Kapitalisme Tak Bermoral: Sebuah Bantahan
Abu Jahal yang kehilangan jejak Muhammad
Pri­mat dan Fil­suf: Merunut Asal-Usul Ke­sadaran Moral

Filsafat dianggap abstrak dan seolah ada jarak dengan manusia. Dia sering dipandang sebelah mata karena dianggap terlampau mengawang, tidak mampu menjawab persoalan konkret zaman. Apalagi, modernisme yang cenderung melihat sesuatu secara fungsionalis. Filsafat lantas dilihat tak berguna karena tidak bisa menghasilkan barang, teknologi, maupun uang.

Benarkah demikian? Sebelum menjadi bidang akademis yang bisa sangat abstrak, filsafat merupakan sebuah dialog dengan kehidupan praktis (misalnya filsafat Yunani kuno). Dia berasal dari kata philo (mencintai)-sophia (kebijaksanaan) demi hidup lebih baik. Demi mencari kebijaksanaan, filsafat tidak berteori secara abstrak. Sebaliknya, dia menceburkan diri dalam kekonkretan. Profesi adalah salah satu kekonkretan yang menarik untuk dibahas secara filosofis.

Jika melihat susunan masyarakat dari segi fungsional, akan menemukan profesi sebagai unsur-unsur penyusun. Di sekitar setiap hari, dijumpa orang-orang yang mengemban profesi tertentu dan bersentuhan dengan barang atau jasa hasil profesi. Lewat profesi-profesi itulah, manusia sebagai anggota masyarakat saling berbagi dan menghasilkan manfaat. Singkatnya, profesi berfungsi sebagai penyusun masyarakat dan memudahkan orang hidup.

Namun, itukah hakikat profesi? Melampaui aspek fungsionalitas dari profesi, Filsafat Yunani kuno beribu tahun yang lalu sudah berusaha memikirkan hakikat dan fungsi profesi yang sangat melekat dengan arête (keutamaan). Dalam arti ini, profesi dilihat tidak hanya sebagai persoalan mata pencarian, tetapi lebih dari itu, persoalan berkeutamaan.

Profesi memungkinkan seseorang menemukan maksud eksistensi. Inilah panggilan filsafat di tengah zaman. Ini mengingatkan manusia pada hakikat profesi sebagai jalan mengolah hidup yang baik. Buku ini berisi 10 tulisan ahli filsafat yang berusaha merenungkan profesi-profesi, sekaligus menyapa para profesional mana pun, bahkan bagi seorang pensiunan.

Bab Pertama membahas secara khusus arti profesi dan komitmennya menurut Plato (hlm 1–33). Bab-bab selanjutnya tentang Epikuros untuk para konsultan diet (hlm 34–49). Hegel tentang para pembantu rumah tangga (hlm 50–57). Feurbach dan Marx untuk para agamawan (hlm 58–78) dan Simmel soal perancang busana serta pialang saham (hlm 79–96).

Kemudian, ada Mercuse versus perusahaan iklan (hlm 97–119). Merleu-Ponty untuk para perawat tubuh (hlm 120–140). Bauman untuk turis, peziarah, dan pengembara (hlm 141–176). Rorty buat para sastrawan (hlm 177–200). Heidegger dan para pensiunan (hlm 201–216).

Profesi tidak begitu saja dapat direduksi menjadi usaha survive demi sesuap nasi atau sebagai alat mengisi kekosongan waktu. Lebih dalam lagi, karena profesi nyatanya turut membentuk identitas dan karakter seseorang. Dia menjadi bagian pencarian makna hidup dan kebahagiaan. Profesi memang berkaitan dengan manusia itu sendiri. Jalan satu-satunya menjadi manusia dengan menghayati seluruh aspek secara human, termasuk juga profesi. (*)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0