"Riset yang kuat akan menghasilkan karya yang unik dan memiliki daya hidup yang lama." – Antoni.
MEDIATOR.ID, Metro – Beberapa waktu lalu, Dewan Kesenian Metro (DKM) menggelar seminar bertajuk “Akulturasi Tari dalam Konteks Tradisi dan Kontemporer” pada Senin, (11/3). Diskusi ini menghadirkan empat narasumber, yaitu Reina Takeuchi, Kiki Rahmatika, Antoni, dan Susanto, dengan Solihin Ucok bertindak sebagai moderator, Rabu, 12 Maret 2025.
Transculture dan Dinamika Penciptaan Tari
Reina Takeuchi, penata tari asal Australia, menekankan pentingnya percampuran budaya dalam proses kreatif seni tari. Menurutnya, pertemuan langsung dengan berbagai praktik budaya memungkinkan seniman membangun pemahaman lintas budaya yang berbasis kesalingan dan negosiasi.
“Transculture bukan sekadar penggabungan elemen budaya, tetapi sebuah proses yang memungkinkan lahirnya pemahaman baru antarbudaya,” ujar Reina dalam diskusi.
Senada dengan Reina, Kiki Rahmatika menambahkan bahwa transculture tidak hanya sebatas pertukaran tubuh dalam gerak tari, tetapi juga mencakup jiwa, perilaku, dan seluruh aspek yang melekat dalam kebudayaan. Koreografer asal Lampung yang telah berkeliling ke berbagai negara ini menilai bahwa transculture dapat menjadi fondasi metodologi penciptaan karya seni yang kuat.
Riset sebagai Kunci Keunikan Karya
Sementara itu, Antoni menyoroti pentingnya riset yang mendalam dalam penciptaan karya tari. Ia menegaskan bahwa seniman tidak boleh hanya mengandalkan referensi dari dunia maya, melainkan harus turun langsung ke masyarakat untuk memahami budaya secara lebih autentik.
“Riset yang kuat akan menghasilkan karya yang unik dan memiliki daya hidup yang lama,” kata Antoni.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa proses riset yang menyeluruh dapat mencegah seniman tari dari kecenderungan meniru karya orang lain.
Akulturasi dan Regenerasi dalam Tari
Susanto memandang bahwa akulturasi dalam tari dapat terjadi melalui proses pengajaran kepada generasi muda. Ia menekankan bahwa bentuk asli dari sebuah tarian harus diajarkan tanpa modifikasi agar perbedaan antara tari tradisi dan kontemporer tetap terjaga.
“Ajarkan saja tarian itu sesuai dengan gerakan aslinya, tidak perlu ditambah atau dikurangi,” ujar Susanto, yang pernah lama belajar tari di Anjungan Lampung, Taman Mini Indonesia Indah.
Dalam penutupan seminar, Ketua Dewan Kesenian Metro, Solihin Ucok, menggarisbawahi pentingnya riset intensif dalam menciptakan karya seni berbasis akulturasi. Menurutnya, karya seni harus lahir dari proses alami yang benar-benar berjalan di masyarakat.
“Karya seni, baik tari maupun bentuk lainnya, harus menjadi hasil nyata dari proses akulturasi, bukan sekadar sesuatu yang direkayasa,” tutur Solihin.
Seminar ini dihadiri oleh guru, pegiat seni tari, serta siswa sekolah menengah yang turut serta dalam diskusi interaktif. Para peserta diajak memahami bahwa dalam penciptaan karya seni, pertemuan antara tradisi dan kontemporer bukan sekadar penggabungan bentuk, tetapi sebuah proses yang melibatkan dialog budaya secara mendalam.**

COMMENTS