Pertumbuhan ekonomi Kota Metro melesat, indeks kesejahteraan meningkatWalikota Metro, Wahdi Siradjuddin. (Adv)

HomeBerita

Pertumbuhan ekonomi Kota Metro melesat, indeks kesejahteraan meningkat

"Capaian ini menunjukkan keberhasilan pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pendidikan dan kualitas hidup masyarakat."

Wakil Wali Kota Metro Sambangi Warga Kampung Tangguh Mandiri
Pajak dan infrastruktur jadi sorotan dalam Musrenbang kelurahan Yosorejo
Update Covid-19 Kota Metro, satu ASN dan tiga pedagang terpapar

MEDIATOR.ID, Metro – Kota Metro mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi di Provinsi Lampung, menunjukkan tren positif dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Kota Metro pada 2023 mencapai 4,86 persen, naik 0,35 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bahkan melampaui pertumbuhan ekonomi Bandar Lampung.

Wali Kota Metro, Wahdi Siradjuddin, menyebut pencapaian ini sebagai hasil kerja bersama pemerintah dan masyarakat dalam memulihkan ekonomi pasca pandemi COVID-19. “Dari kontraksi -1,79 persen pada 2020, kini ekonomi Metro tumbuh positif di angka 4,86 persen,” ujar Wahdi, Senin, 20 Januari 2024.

Selain pertumbuhan ekonomi, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Metro juga mengalami peningkatan signifikan. Pada 2024, IPM Metro mencapai 80,41, naik dari 79,85 di tahun sebelumnya. Angka ini menempatkan Metro dalam kategori “sangat tinggi” dan lebih tinggi dibanding rata-rata nasional maupun provinsi.

Menurut Kepala BPS Kota Metro, Arum Purbowati, peningkatan IPM ini didorong oleh beberapa faktor, di antaranya harapan lama sekolah (HLS) yang meningkat dari 14,77 tahun menjadi 14,79 tahun serta rata-rata lama sekolah (RLS) yang naik dari 11,00 tahun menjadi 11,01 tahun. “Capaian ini menunjukkan keberhasilan pemerintah daerah dalam meningkatkan akses pendidikan dan kualitas hidup masyarakat,” kata Arum.

Dari sisi ekonomi, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Metro juga mengalami peningkatan dalam tiga tahun terakhir. Pada 2021, PDRB Metro tercatat sebesar Rp6,56 triliun, naik menjadi Rp7,22 triliun di 2022, dan mencapai Rp7,86 triliun pada 2023. Peningkatan ini turut berkontribusi terhadap kenaikan pendapatan per kapita warga, yang pada 2023 mencapai Rp45,24 juta.

Penurunan Kemiskinan dan Ketimpangan Ekonomi
Selain mencatat pertumbuhan ekonomi yang baik, Kota Metro juga berhasil menekan angka kemiskinan. Pada 2024, persentase penduduk miskin turun menjadi 6,78 persen, menjadikannya yang terendah kedua di Provinsi Lampung.

“Persentase penduduk miskin terus mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir, dari 8,7 persen pada 2020 menjadi 6,78 persen pada 2024,” ungkap Wahdi. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka juga mengalami penurunan signifikan dari 5,4 persen pada 2020 menjadi 3,6 persen di 2023.

Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan Kota Metro juga menunjukkan perbaikan. Pada 2024, Indeks Kedalaman Kemiskinan berada di angka 0,77 persen, sementara Indeks Keparahan Kemiskinan turun menjadi 0,15 persen.

Dari segi ketimpangan ekonomi, nilai Gini Ratio Kota Metro pada 2023 tercatat sebesar 0,289, turun dari 0,299 pada 2022. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan rata-rata Provinsi Lampung (0,324) dan nasional (0,388), menandakan ketimpangan ekonomi di Metro berada pada kategori rendah.

Pengendalian Inflasi dan Stabilitas Harga
Keberhasilan Pemkot Metro dalam menjaga stabilitas ekonomi juga tercermin dari pengendalian inflasi. Berdasarkan survei BPS pada November 2024, inflasi Year to Date (YTD) Kota Metro tercatat sebesar 1,04 persen, sementara inflasi Year on Year (Y-O-Y) berada di angka 1,09 persen.

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Metro aktif melakukan berbagai upaya untuk menekan gejolak harga, termasuk pemantauan stok, operasi pasar, serta komunikasi intensif dengan distributor. “Kami rutin mengikuti rapat koordinasi nasional untuk mengevaluasi dan menemukan solusi atas kendala dalam pengendalian inflasi,” ujar Wahdi.

Komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Metro antara lain emas, sigaret kretek mesin, ayam hidup, kelapa, beras, dan jeruk. Meski demikian, TPID Metro mampu mengendalikan harga dengan baik, menjaga daya beli masyarakat tetap stabil.

Masa Depan Pembangunan Kota Metro
Dalam Sidang Paripurna Juli 2024, Wahdi memaparkan visi pembangunan Kota Metro dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025–2045. Salah satu target utama adalah menekan angka kemiskinan hingga 8,47 persen, atau di bawah target nasional.

Namun, berdasarkan realisasi pada 2023, angka kemiskinan Metro sudah lebih rendah dari target tersebut, berada di angka 7,28 persen. “Capaian ini menunjukkan bahwa Kota Metro mampu mengatasi tantangan ekonomi lebih baik dibanding target yang ditetapkan pemerintah pusat,” kata Wahdi.

Ke depan, Pemkot Metro berencana meningkatkan pendapatan per kapita melalui berbagai strategi, termasuk pembangunan infrastruktur, dukungan bagi UMKM, peningkatan investasi daerah, dan penguatan sektor perikanan serta industri pengolahan.

Dengan pencapaian ekonomi yang stabil, kesejahteraan masyarakat yang meningkat, serta strategi pembangunan yang terarah, Kota Metro terus menunjukkan dirinya sebagai salah satu kota dengan tata kelola ekonomi terbaik di Provinsi Lampung. (Adv)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0