Agustio: pahlawan tanpa nama di antara lubang dan harapanKondisi jalan rusak di Bedeng 38 Banjarejo, Batanghari, Lampung Timur. (Aina Oktaviani)

HomeBerita

Agustio: pahlawan tanpa nama di antara lubang dan harapan

"Jalan berlubang itu seperti luka, dan aku hanya ingin menutupnya sebelum ada yang tersandung lebih dalam." - Agustio.

Bambang lepas Atlet Panahan Metro: bukan sekadar bidik, tapi raih emas!
Pemkot Metro dorong pemanfaatan DTSEN, pastikan Bansos dan pelayanan publik tepat sasaran
Wali Kota Metro sambut jemaah haji kloter 56: harap jadi teladan

Langit siang menyala garang di atas Bedeng 38 Banjarejo, Batanghari, Lampung Timur membentang seperti hamparan kain api yang mengukus bumi. Debu jalanan berputar, diangkat oleh angin yang malas, menyelimuti tubuh seorang pria yang tekun membungkuk di tepi jalan Harjo Sudarmo, 38. Tangannya menggenggam sekop kecil, memindahkan campuran semen dan pasir ke dalam lubang-lubang yang menganga, seakan menutup luka pada tubuh bumi.

Ia mengenakan topi lusuh, sepatu bot yang telah berulang kali diinjak waktu, dan kaos sederhana yang menyimpan peluh serta jejak perjalanan hidupnya. Agustio, pria berusia 47 tahun itu, bukan seorang pegawai dinas pekerjaan umum, bukan pula buruh proyek yang menunggu gaji bulanan. Ia hanyalah seorang warga biasa dari tetangga kabupaten, Yosodadi, Metro Timur, yang memilih menghabiskan waktunya menambal jalan dengan tangan sendiri.

Tak ada lencana yang menggantung di dadanya, tak ada pangkat yang melekat di namanya. Namun, ia adalah pahlawan bagi banyak orang.

Luka yang Menggerakkan
Empat tahun telah berlalu sejak ia pertama kali mengangkat sekopnya untuk menutup lubang-lubang jalanan yang mengancam para pengendara. Namun, di balik ketekunan itu, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.

“Saya dulu melakukannya bersama anak saya,” suaranya pelan, matanya menerawang jauh, seperti melihat sesuatu yang tak lagi bisa disentuh. “Tapi Tuhan berkehendak lain, mengambilnya lebih dulu.”

Sebuah tragedi menjadi titik balik dalam hidupnya. Sang anak, yang dulu setia menemani, menjadi korban dari jalan yang berlubang. Roda motor yang kehilangan keseimbangan, tubuh yang terhempas, dan dentuman takdir yang merenggut nyawa buah hatinya. Sejak saat itu, Agustio bersumpah, tidak akan membiarkan lubang-lubang jalan itu menelan korban lain.

“Saya gak mau, Mbak. Nanti ada korban selanjutnya setelah anak saya,” ucapnya dengan suara yang mengeras, seolah sedang bertarung dengan kenangan yang ingin menelannya.

Jalan yang Diperbaiki, Jiwa yang Diperbarui
Setiap hari, saat kebanyakan orang memulai pagi dengan rutinitas yang terencana, Agustio mengambil sekop dan menuju jalanan. Ia tak punya kendaraan mewah atau alat berat, hanya kemauan yang keras dan hati yang tak kenal lelah.

Bahan-bahan untuk menambal jalan ia dapatkan dari hasil kerja sebagai kuli bangunan. Jika ada yang berbaik hati memberinya material, ia akan berusaha mencari mobil untuk mengangkutnya. “Kalau ada yang ngasih, Alhamdulillah. Kalau tidak, saya tetap lanjut,” katanya, dengan senyum yang lebih berharga daripada emas.

Di bawah terik matahari, ia bekerja sendiri. Keringatnya bercampur debu, mengukir kisah di atas aspal yang ia tambal dengan penuh cinta. Tak jarang, pengendara yang melintas berhenti sejenak, menyelipkan beberapa lembar uang sebagai tanda terima kasih. Namun, tak ada harga yang bisa benar-benar membayar ketulusan.

Di warung kecil milik Suryani, tempatnya melepas lelah, sering kali ia hanya memesan segelas air putih. “Kadang kalau ada uang, dia beli makan. Kalau nggak ada, ya cuma minum air,” ujar Suryani, dengan tatapan iba.

Ketulusan yang Mengalir Seperti Sungai
Agustio tidak mengeluh. Baginya, keikhlasan adalah kunci. “Setiap perbuatan itu, yang penting ikhlas,” ucapnya suatu hari, saat seseorang bertanya mengapa ia tetap melakukan ini meskipun tak ada yang menyuruh, tak ada yang membayar.

Ikhlas. Satu kata yang menjelma menjadi tenaga dalam setiap gerakan tangannya, dalam setiap sekop yang ia ayunkan, dalam setiap butiran pasir yang ia letakkan dengan hati-hati.

Kisahnya seperti sungai yang terus mengalir, menembus bebatuan, tanpa bertanya ke mana harus pergi. Ia tidak butuh tepuk tangan atau penghargaan. Ia hanya ingin memastikan tak ada lagi anak yang kehilangan nyawa seperti anaknya, tak ada lagi ibu yang menangis di sisi jalan karena kehilangan orang tercinta.

Di saat banyak orang menuntut tanggung jawab dari pemerintah, Agustio memilih untuk bertindak. Ia tak menunggu janji atau kebijakan, ia tak menanti anggaran atau perbaikan berkala. Ia hanya seorang pria yang mendengar panggilan hatinya dan menjawabnya dengan tindakan nyata.

Menggugah Kesadaran, Menyalakan Kepedulian
Kisah Agustio bukan hanya tentang menambal jalan. Ia adalah cermin bagi kita semua—tentang bagaimana kepedulian tidak harus menunggu perintah, tentang bagaimana kebaikan bisa dilakukan dalam bentuk yang paling sederhana, namun berdampak besar.

Mungkin kita tidak punya sekop seperti Agustio, tapi kita punya tangan untuk membantu. Mungkin kita tidak bisa menambal jalan, tapi kita bisa menambal kesenjangan dalam masyarakat dengan empati dan tindakan nyata.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan individualistis, Agustio mengingatkan bahwa masih ada ruang untuk keikhlasan, masih ada tempat untuk kepedulian. Ia menunjukkan bahwa menjadi pahlawan tidak selalu berarti berdiri di medan perang atau mengenakan seragam. Kadang, menjadi pahlawan berarti berjongkok di tepi jalan, mengisi lubang dengan pasir, dan memastikan orang lain bisa melintas dengan selamat.

Mungkin ia tak akan pernah masuk dalam buku sejarah. Tak ada piagam yang akan tergantung di dinding rumahnya. Namun, bagi setiap pengendara yang melewati jalan yang telah ia perbaiki, namanya akan selalu hidup. Dalam hening, dalam doa yang tak terdengar, dalam langkah-langkah yang tak lagi tersandung lubang jalanan.

Sebab di dunia yang sering kali keras dan abai, kisah seperti Agustio adalah lentera—cahaya kecil yang menerangi sudut gelap, mengingatkan kita bahwa di antara aspal yang retak dan batu yang berserakan, masih ada hati yang memilih untuk berbagi.

Penulis: Aina Oktaviani

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: