Menelusuri Istana Maimun: kilauan masa lalu di jantung MedanIstana Maimun, pertemuan antara seni, budaya, dan kejayaan Kesultanan Deli. (Aina Oktaviani)

HomeOPINI

Menelusuri Istana Maimun: kilauan masa lalu di jantung Medan

"Istana Maimun bukan sekadar bangunan megah yang berdiri kokoh di tengah Kota Medan. Ia adalah cermin kejayaan Kesultanan Deli, tempat sejarah berbisik di antara pilar-pilar emas dan lantai marmernya. Setiap ukiran, setiap jendela, menyimpan kisah kebesaran para sultan yang pernah memimpin dengan kebijaksanaan dan keberanian. Seperti gelombang Sungai Deli yang tak henti mengalir, warisan Kesultanan Maimun tetap hidup dalam ingatan, menanti untuk diceritakan kembali kepada mereka yang ingin mendengar."

Panwascam Metro Barat buka pendaftaran PTPS, berikut syarat yang harus dipenuhi!
LPAI tegur sekolah swasta di Metro atas dugaan mobilisasi anak bawah umur untuk berdemo
Pemkot Metro akan normalisasi irigasi dan drainase guna penanggulangan banjir

Pintu besar menjulang, menganga seperti mulut sejarah yang hendak menuturkan hikayatnya. Tembok bercorak keemasan berpendar saat mentari menari di pagi yang bening. Kubah-kubah hitam mengkilap, menyerap cahaya, lalu melemparkannya kembali dalam kilau anggun yang menggoda mata. Di ambang istana, riuh anak-anak sekolah berhamburan, membawa tanda tanya sebesar semesta di kepala mereka. Setiap langkah mereka seolah menyibak tabir masa silam, menelusuri jejak kejayaan Kesultanan Deli yang abadi dalam guratan arsitektur.

Istana Maimun, sebuah mahakarya yang membentang di atas tanah seluas 2.772 meter persegi, bukan sekadar bangunan. Ia adalah kitab yang terbuka, melantunkan narasi kebesaran yang tak lekang digerus waktu. Berlokasi di Deli Serdang, Sumatera Utara, istana ini merupakan simbol kejayaan Kesultanan Deli yang masih berdiri megah hingga kini. Walau didirikan oleh Kesultanan Deli yang berakar dalam tradisi Islam, istana ini adalah pertemuan antara budaya Timur dan Barat. Seorang mantan serdadu Belanda, Theodoor Van Erp, merancangnya dengan sentuhan artistik yang tak biasa. Properti yang menghiasi ruangan-didatangkan dari berbagai penjuru dunia-keramik dari Italia, lampu gantung dari Prancis, hingga sentuhan ukiran kayu bercita rasa Melayu yang berpadu dengan pengaruh Moghul dan Spanyol.

Jalan menuju pemahaman sejarah tak pernah bisa ditempuh dengan setengah hati. Menyadari itu, para pemandu yang telah lama menyelami kisah istana hadir sebagai penutur sejarah, menggandeng para pelancong dalam perjalanan menuju masa lampau. Seorang gadis muda bernama Tio Vina Sianturi, siswi kelas tiga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Sidi Kalang, dengan suaranya yang bening dan penuh semangat, mengisahkan jejak waktu Istana Maimun dengan bahasa yang menghidupkan setiap detail.

“Saya bisa menjelaskan sejarah istana ini karena sudah melakukan pelatihan selama sebulan untuk mengenal dan memahaminya,” tutur Tio, yang selama tiga bulan terakhir telah membimbing pengunjung dengan penuh dedikasi.

Memasuki pintu utama, pengunjung disambut oleh kursi harian Sultan Ma’moen Al Rasyid, sultan kesembilan Kesultanan Deli. Kursi itu menjadi saksi bisu kebiasaan sultan menikmati angin pagi sambil menatap halaman yang luas. Di setiap dinding ruang depan, terpajang potret para pemangku tahta Kesultanan Deli, dari sultan pertama hingga keempat belas, seakan mengawasi setiap langkah yang melewati koridor sejarah mereka.

Menuju bagian tengah ruangan, singgasana sultan menjadi pusat perhatian. Megah dengan warna kuning dan hijau, singgasana ini bukan sekadar tempat duduk. Ia adalah simbol kekuasaan, tempat di mana keputusan besar diambil, tempat di mana sang pemimpin bersila dan bermusyawarah dengan para menteri. Bahkan, di atas singgasana ini pula prosesi khitanan bagi keturunan kerajaan dilangsungkan, dalam tradisi yang sarat makna.

“Hijau melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa, dan kuning melambangkan kejayaan serta kemakmuran,” jelas Tio, telunjuknya mengarah ke singgasana yang masih berdiri kokoh, memancarkan aura keagungan.

Beranjak ke ruang belakang sebelah kiri, terpajang replika perhiasan serta tepak sirih milik Sultan Amaluddin Sani Perkasa Alamsyah, sultan ke-10 Kesultanan Deli. Perhiasan asli telah lama disimpan oleh pihak keluarga sebagai warisan yang tak ternilai. Di sisi lain, dua meja makan dari Belanda masih bertahan meski usia telah menggerogoti kayunya. Sayangnya, kursi yang menemani meja tersebut kini tinggal kenangan, lapuk dimakan waktu dan tak lagi diperlihatkan kepada pengunjung.

“Kursinya sudah lapuk karena memang sudah sangat lama. Jadi, pengelola memilih untuk tidak diperlihatkan,” ujar Tio, dengan nada penuh penyesalan.

Namun, keunikan istana ini tetap menjadi magnet bagi pengunjung dari berbagai penjuru negeri. Alwy Zain Holle, seorang pelancong dari Ambon, tampak terkesima saat menjelajahi setiap sudut ruangan. Ia melangkah perlahan, menyusuri lorong-lorong waktu, menelusuri setiap detail yang tersimpan di dinding istana.

“Saya tertarik karena rumah ini merupakan salah satu kesultanan terbesar di Indonesia. Ornamen-ornamen yang usianya sudah tua masih terawat dengan sangat baik,” ungkapnya dengan kagum.

Namun, di balik kekaguman itu, ada catatan kecil yang mengusik kenyamanannya. Kurangnya penjelasan tertulis pada foto-foto dan artefak sejarah menjadi kendala bagi pengunjung yang ingin memahami lebih dalam.

“Setidaknya setiap foto ada penjelasannya, agar kami tidak kebingungan mengenali siapa mereka,” tambahnya.

Meskipun masih ada kekurangan dalam penyajian informasi, Istana Maimun tetap menjadi cermin kejayaan masa lalu yang terus bersinar di peradaban modern. Ia bukan sekadar bangunan, melainkan lambang warisan yang tak ternilai. Dari megahnya arsitektur hingga kisah-kisah yang terpatri dalam setiap sudut, istana ini terus menyimpan keajaiban bagi siapa pun yang ingin mengenal sejarah dalam bentuk yang paling indah.

Seiring waktu, debu mungkin akan berusaha menyelimuti jejak kejayaan. Namun, selama ada mereka yang terus melangkah masuk, menatap langit-langit berhias lampu kristal, menyentuh tiang-tiang yang pernah menopang kejayaan, dan bertanya tentang kisah-kisah yang tersembunyi, Istana Maimun akan selalu hidup. Sebab sejarah bukanlah sekadar catatan di lembaran tua, melainkan denyut yang bergetar dalam ingatan dan hati mereka yang memilih untuk mendengarnya.

Penulis: Aina Oktaviani

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: