FOMO Gen Z: ladang rezeki segeran soreSegeran Sore: Vespa tua, secangkir kopi, dan senja yang menenangkan di tepi sawah. (Melina Indawati)

HomeBerita

FOMO Gen Z: ladang rezeki segeran sore

"Di antara riuhnya dunia yang berlari, Segeran Sore hadir sebagai jeda-sepotong senja yang menenangkan, secangkir kopi yang menghangatkan, dan sejumput keheningan yang mengajak siapa pun untuk kembali pada diri sendiri."

KONI Provinsi Lampung ajak KONI Metro kembangkan potensi atlet
Lampura Zona Merah, Bupati: Islamic Center akan dijadikan lokasi perawatan pasien COVID-19
Rahmat Mirzani Djausal: Pemasangan alat peraga kampanye di pohon merusak lingkungan

Senja merayap perlahan di ufuk barat, menyisakan semburat jingga yang merekah di antara awan-awan tipis. Lembayung itu memantulkan sinarnya ke kaca jendela gedung yang baru saja kutinggalkan. Institut Agama Islam Negeri Metro, kampus tempatku merajut ilmu, seakan ikut menghela napas panjang bersama para mahasiswanya yang lelah usai menjejali hari dengan teori dan wacana. Kota Metro, yang berdiri megah di gerbang Sumatera, adalah kota yang sibuk, penuh denyut kehidupan, dipadati kendaraan yang tak kenal lelah melaju. Namun, di balik hiruk-pikuknya, selalu ada celah untuk bernafas, tempat untuk sekadar menyandarkan penat.

”Yok, ke Segeran Sore. Nyari angin, biar gak pusing. Refreshing dulu lah…,” ajak sahabatku, menyadarkan lamunanku.

Segeran Sore. Nama itu seolah menjanjikan ketenangan yang diam-diam kami rindukan. Bukan sekadar warung kopi, melainkan sebuah persinggahan bagi jiwa-jiwa yang haus akan ketenteraman. Tempat ini bersembunyi di Jalan Bulakan 27, Mulyosari, Metro Barat, Lampung. Berbeda dari kedai kopi biasa yang berdiri menetap, Segeran Sore hadir dengan konsep unik: sebuah sepeda motor yang disulap menjadi kafe berjalan, menyeduh kopi dengan peralatan sederhana, namun mengalirkan kehangatan yang tak bisa dijelaskan hanya dengan kata-kata.

Perjalanan menuju Segeran Sore memakan waktu sekitar delapan belas menit dari pusat kota. Angin menyibak jilbab kami saat sepeda motor melaju, mengantarkan ke tempat yang kontras dengan kebisingan perkotaan. Jauh dari deru mesin dan debu jalanan, jalanan menuju Segeran Sore dipenuhi hijauan, sesekali diselingi suara burung yang melintas di langit sore.

”Sejuk juga ya arah sini. Napas jadi lebih lega,” gumam salah satu sahabatku.

Begitu tiba, kami disambut oleh bentangan persawahan yang menghijau. Rumput-rumput liar menari-nari dalam hembusan angin sore, seolah ikut berbisik dalam alunan waktu. Tak ada bangunan mewah, hanya karpet anyaman bambu yang digelar di tepi sawah, beratap langit senja yang memudar perlahan. Namun, justru dalam kesederhanaannya, Segeran Sore menemukan pesonanya.

Saat menanti pesanan, kami berbincang dengan pemilik tempat ini, Fikri Hilmiawan Subarka, seorang lelaki berusia 29 tahun yang mengubah tempat bermain masa kecilnya menjadi ladang rezeki.

”Dulu tempat ini tongkrongan kami sejak kecil. Kami sering mandi di setier, lalu saat remaja, tempat ini jadi arena balap liar, bahkan ada yang mabuk-mabukan,” kenangnya, sembari mengaduk kopi dalam cangkir.

Alih-alih membiarkan masa lalunya terus berulang, Fikri memilih mengubah tempat ini menjadi ruang yang lebih bermakna. ”Saya mikir, gimana caranya supaya tongkrongan ini jadi lebih positif. Jadi, saya buka Segeran Sore. Biar anak-anak muda nongkrong sambil ngopi atau minum es, bukan yang lain-lain,” tambahnya dengan senyum ringan.

Secangkir kopi tersaji, mengepul lembut dalam genggaman. Aroma khasnya bercampur dengan udara sawah yang lembap. Kami menyeruputnya perlahan, merasakan kehangatan yang meresap hingga ke dada. Langit mulai menggelap, menyisakan cahaya temaram yang terpantul di permukaan sawah yang tenang.

”Eh, keren banget ya kak Fikri tadi. Usahanya bisa viral gitu. Next usaha ku juga lah ikut viral, tapi belum tau juga mau usaha apa,” canda salah satu sahabatku.

Segeran Sore memang tak luas. Namun, justru dalam keterbatasan itu, tempat ini menjadi magnet bagi kaum muda. FOMO, atau Fear of Missing Out, menjadikannya tren yang tak ingin dilewatkan oleh siapa pun. Di era digital, di mana keindahan harus diabadikan dalam potret dan dibagikan di media sosial, Segeran Sore menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Tak sekadar menikmati kopi, pengunjung juga membawa pulang kenangan dalam bentuk foto berlatar langit senja dan hamparan hijau yang memanjakan mata.

Aku sempat berbincang dengan seorang pengunjung bernama Ica, yang datang jauh-jauh dari Padang Ratu, Kabupaten Lampung Tengah. ”Tahu tempat ini dari temen. Katanya di Metro ada tempat asik buat nyore. Aku cek Instagram, ternyata memang bagus tempatnya,” ujarnya.

FOMO bisa jadi pedang bermata dua. Bagi sebagian orang, ia melahirkan kecemasan, ketakutan akan tertinggal dari tren yang sedang berkembang. Namun, bagi Segeran Sore, FOMO justru menjadi berkah. Dari rasa ingin tahu yang menular, tempat ini kian ramai dikunjungi, menjelma sebagai ruang perjumpaan bagi mereka yang mendamba ketenangan di tengah pusaran dunia yang bergerak terlalu cepat.

Sore itu, kami larut dalam perbincangan, tertawa ringan di antara tegukan kopi yang hangat. Senja berlalu, malam perlahan datang menyelimuti. Namun, Segeran Sore tetap berpendar dalam ingatan, bukan sekadar tempat, tetapi juga cerita yang akan selalu ingin kami ulangi.

Bagi siapa pun yang ingin melarikan diri sejenak dari kepenatan, Segeran Sore adalah jawaban. Harga yang ramah di kantong, suasana yang menenangkan, serta secangkir kopi yang menyelipkan kehangatan di antara jari-jari yang lelah menggenggam realitas. Dan di sanalah, dalam kesederhanaannya, Segeran Sore terus hidup, menanti mereka yang datang dengan jiwa yang rindu akan ketenangan.

Penulis: Melina Indawati

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0