Sumpah Pemuda ke-97: Ketua DPRD Metro dorong gerakan kolaborasi anak mudaRia Hartini saat ikuti upacara peringatan hari Sumpah Pemuda ke-97, yang digelar di halaman Pemkot Metro. (Advertorial)

HomeBerita

Sumpah Pemuda ke-97: Ketua DPRD Metro dorong gerakan kolaborasi anak muda

"Saya percaya pemuda Metro punya energi besar. Tugas kita adalah memberi ruang, bukan menghambat kreatifitas mereka." - Ria Hartini.

Tanam padi PMA: Ketua DPRD Kota Metro tegaskan petani butuh kebijakan nyata
AKD DPRD Metro terbentuk, siap tingkatkan kinerja legislatif
DPRD Metro perketat pembahasan KUA–PPAS 2026: Ria Hartini tekankan data di OPD sesuai

MEDIATOR.ID, Metro – Upacara Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke-97, yang digelar pada Selasa, 28 Oktober 2025 di Kota Metro, menjadi momentum reflektif bagi seluruh pemangku kepentingan daerah untuk meneguhkan kembali pentingnya persatuan nasional di tengah dinamika sosial yang terus berubah.

Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini, yang secara khusus menyampaikan pesan mendalam mengenai peran generasi muda dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Upacara berlangsung khidmat di salah satu ruang publik strategis di Kota Metro, dengan peserta yang terdiri dari unsur pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, pelajar, mahasiswa, unsur TNI-Polri, serta berbagai komunitas sosial dan budaya.

Bendera merah putih berkibar di tengah alunan lagu Indonesia Raya, menandai pembukaan upacara yang tahun ini mengusung tema besar seputar kekuatan kolaborasi pemuda dalam menjaga masa depan bangsa.

Kehadiran Ketua DPRD Metro mempertegas bahwa isu kepemudaan bukan sekadar urusan seremonial tahunan, namun berkaitan langsung dengan arah kebijakan pemerintah, termasuk bagaimana DPRD sebagai lembaga legislatif harus memastikan anggaran, regulasi, dan program pembangunan benar-benar berpihak kepada generasi muda.

Dalam kesempatan tersebut, Ria menegaskan bahwa Sumpah Pemuda bukan hanya sejarah, melainkan dokumen hidup yang terus relevan sepanjang zaman. Ia menilai bahwa tiga kalimat sakral pada 28 Oktober 1928 itu adalah “kompas moral” yang seharusnya menjadi dasar berperilaku dan berpikir seluruh warga negara, khususnya pemuda.

“Sumpah Pemuda bukan sekadar teks untuk dihafalkan, tetapi nilai untuk dihidupkan. Tiga ikrar itu adalah pengingat bahwa kita kuat karena bersatu, bukan karena seragam,” ujar Ria dalam wawancara.

Menurutnya, persoalan bangsa saat ini sering kali bermula dari perpecahan sosial maupun polarisasi politik yang sebenarnya bisa dicegah apabila semangat persatuan tetap dijadikan pegangan.

“Kalau kita lihat sekarang, tantangan pemuda jauh lebih kompleks daripada dulu. Bukan lagi soal penjajahan fisik, tapi penjajahan informasi, perpecahan digital, dan krisis identitas. Karena itu, persatuan menjadi semakin penting,” tambahnya.

Ria menilai bahwa Kota Metro memiliki potensi besar karena 40% lebih penduduknya berada pada kelompok usia produktif. Namun potensi tersebut belum sepenuhnya termanfaatkan optimal. Ia menilai masih ada sejumlah kendala, seperti minimnya wadah pengembangan minat bakat, terbatasnya akses beasiswa atau pelatihan kerja, dan belum meratanya program pemberdayaan pemuda di tingkat kelurahan.

“Kalau kita bicara masa depan Metro, maka kita sedang bicara tentang pemuda hari ini. Pendidikan, peluang usaha, lapangan kerja, kreativitas teknologi—semua itu perlu dirancang secara serius, bukan sekadar lewat kegiatan seremonial,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran pemuda dalam dunia digital. Menurut Ria, gelombang digitalisasi adalah peluang besar bagi pemuda Metro untuk bersaing di tingkat nasional, asalkan pemerintah menyediakan fasilitas dan ruang kolaborasi yang memadai.

“Saya ingin pemuda Metro bisa menjadi inovator, bukan hanya pengguna. Jangan sampai kita hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi tidak memiliki karya yang bisa dibanggakan,” jelasnya.

Dalam pidatonya, Ria menyentil perlunya kerja sama yang lebih terstruktur antara Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta organisasi kepemudaan seperti KNPI, karang taruna, dan komunitas kreatif. Menurutnya, tantangan zaman menuntut perubahan pola pikir: pemerintah daerah tidak boleh berjalan sendiri, sementara organisasi pemuda tidak bisa bekerja tanpa arah.

“Program kepemudaan harus punya arah yang jelas. Mana yang untuk intelektual, mana yang untuk olahraga, mana untuk kewirausahaan, dan mana untuk sosial kemasyarakatan. Kita harus punya pemetaan yang konkret,” kata Ria.

Ia juga meminta agar pemerintah kota memberi ruang lebih luas bagi pemuda untuk terlibat dalam proses kebijakan publik, mulai dari penjaringan aspirasi hingga perencanaan pembangunan.

Dalam sesi terpisah, Ria Hartini menyampaikan pesan khusus kepada para pemuda Metro. Ia menekankan pentingnya keberanian, karakter, dan integritas sebagai modal utama untuk membangun masa depan.

“Anak muda harus kritis, tapi juga solutif. Berani bersuara bukan berarti asal mengkritik, tetapi memberikan alternatif pemecahan masalah,” ujarnya.

Ria menegaskan bahwa DPRD selalu terbuka terhadap aspirasi pemuda, termasuk kritik pedas sekalipun. Menurutnya, kritik adalah bagian dari proses demokrasi yang sehat.

“Ketika kalian menyampaikan kritik, itu artinya kalian peduli. Dan bagi kami, kepedulian itu sangat berarti,” katanya.

Ria juga mengingatkan bahwa banyak ancaman sosial yang dapat merusak masa depan pemuda, seperti pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, kekerasan digital (cyberbullying), serta hoaks dan radikalisme berbasis internet.

Ia meminta pemerintah kota untuk memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital di sekolah-sekolah, serta memastikan bahwa setiap kelurahan memiliki program pembinaan pemuda yang konsisten.

“Anak muda harus diberikan benteng moral. Jangan hanya disuruh berprestasi, tapi tidak dibekali nilai,” katanya.

Di akhir pembicaraan, Ria menegaskan bahwa DPRD Kota Metro siap untuk memperkuat alokasi anggaran kepemudaan pada tahun anggaran 2026. Menurutnya, program pemuda harus diperlakukan sebagai investasi jangka panjang, bukan biaya tahunan yang sifatnya seremonial.

“Kami ingin memastikan APBD memiliki porsi yang adil untuk pendidikan, kreativitas, dan pemberdayaan pemuda. Tidak boleh ada stagnasi lagi. Mereka adalah masa depan kita,” tegasnya.

Ia meminta agar seluruh OPD terkait menyusun program yang benar-benar menyentuh kebutuhan pemuda, bukan hanya sekadar melaksanakan kegiatan formalitas.

Upacara Sumpah Pemuda ke-97 tahun ini menjadi momentum reflektif bagi Kota Metro untuk melihat kembali sejauh mana pemuda terlibat dalam perjalanan pembangunan daerah. Bagi Ketua DPRD Metro, Sumpah Pemuda adalah pengingat sekaligus kompas.

“Kita semua boleh berasal dari latar belakang berbeda, tetapi kita bergerak menuju masa depan yang sama. Itulah pesan Sumpah Pemuda. Dan tugas kita adalah memastikan pemuda Metro tidak kehilangan semangat itu,” kata Ria.

Dengan pesan tersebut, peringatan Sumpah Pemuda ke-97 di Kota Metro tidak hanya menjadi seremonial tahunan, tetapi juga menjadi ruang evaluasi dan harapan baru bagi lahirnya generasi muda yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berdaya. (Advertorial)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: