Warga pesimis dengan rencana Pemkot Metro tangani masalah sampahAnak kecil duduk di area TPAS Karangrejo, Metro Utara. (Msf)

HomeBerita

Warga pesimis dengan rencana Pemkot Metro tangani masalah sampah

"Sedikitnya terdapat 400 kepala keluarga (KK) terdampak limbah TPAS. Mereka meminta apa yang disampaikan di media massa saat kunjungan Pemkot Metro ke TPAS Karang Rejo betul-betul direalisasi."

Wali Kota Metro diperiksa sebagai saksi, kuasa hukum keberatan pasal 492 KUHP
Peringati WIPO, Kemenkumham gelar beragam kegiatan
Pemkab Lampung Utara luncurkan Scan QR Code Peduli Lindungi

MEDIATOR.ID, Metro – Perihal wacana Pemerintah Kota Metro akan tangani masalah sampah di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo, mendapat tanggapan pesimis dari warga.

Ketua RW 09/RT 33, Kelurahan Karangrejo, Kecamatan Metro Utara, Dodo mengatakan, dirinya kurang yakin terhadap janji dan rencana Pemkot Metro akan tanggulangi masalah sampah di TPAS Karangrejo bisa terealisasi. Dirinya menilai, planing tersebut akan bernasib sama seperti proyek pengadaan daur ulang sampah sebelumnya.

“Kalau itu bunyinya dibuat di luar area tempat sampah, kami tetap tidak setuju. Ya kalau benar-benar dikelola, kalau ke depannya gak jalan kayak pengalaman yang dulu-dulu itu, nanti malah nambah persoalan baru lagi. Intinya itu yang terdampak akibat TPAS Karang Rejo selama 37 tahun ada di RW 08 dan RW 09, dan kami tidak mau lagi tertipu janji, harapan kami kompensasi kesejahteraan di lingkungan ini dapat berkelanjutan, terutama kesehatan, kalau bisa dibuat Perdanya,” kata Dodo, Minggu, 4 Desember 2022.

Video Sampah – Kondisi di TPAS Karangrejo, Kota Metro

Sedikitnya, kata Dodo, terdapat 400 kepala keluarga (KK) terdampak limbah TPAS. Mereka meminta apa yang disampaikan di media massa saat kunjungan Pemkot Metro ke TPAS Karang Rejo betul-betul direalisasi.

“Hampir 37 tahun lebih kami ini terdampak akibat limbah sampah, sudah terlalu lama kami bersabar. Banyak dampak negatif yang ditimbulkan akibat limbah sampah TPAS, mulai dari sampah yang sering tercecer di jalan, serangan lalat, hingga penyakit gangguan pernapasan,” kata Dodo.

Sejak sampah semakin banyak dan menumpuk, imbuh Dodo, masyarakat di sekitar area TPAS mulai waspada dalam mengonsumsi air sumur, mereka takut terjangkit penyakit.

“Banyak warga yang mulai sakit gangguan pernapasan, seperti flek di paru paru. Warga juga mulai beli air minum, jarang pakai air sumur untuk minum. Saya juga gak tahu ya, gangguan pernapasan itu dampak dari limbah sampah TPAS atau bukan, tapi semenjak sampah mulai banyak, ya itu … pada sakit pernapasan, balita, anak-anak, orang tua apalagi,” katanya.

Dodo juga meminta Pemerintah Kota Metro dapat memberikan kompensasi berkelanjutan kepada warga terdampak TPAS, terutama hal yang terkait kesehatan.

“Boro-boro bantuan, ini aja tim dari puskesmas meriksa kesehatan warga baru-baru ini aja karena ada gejolak di masyarakat. Sudah capek, 37 tahun lo kami ini sabar, kami juga sempat marah karena dengar TPAS mau dilebarkan, kami nolaklah. Kami ini diperhatikan lo, kasih vitamin kek, bantuan kompensasi apa kek, kalo perlu dibuat Perda, masalah kesejahteraan kami ini,” pungkasnya. (Msf)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0