"Saya pernah sakit paru-paru, kesulitan bernapas dan dirawat di rumah sakit (RS), dua kali. Awalnya dirawat di RS Muhammadiyah, biaya berobat pinjam sama saudara."
MEDIATOR.ID, Metro – Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Karangrejo, Metro Utara yang telah beroperasi selama 37 tahun membuahkan dampak negatif bagi warga sekitar TPAS.
Dampak negatif tersebut berupa wabah demam berdarah, bau menyengat hingga beragam gangguan pernapasan.
Ketua RT 33, Suyanto mengakan, dirinya sendiri sempat mengidap penyakit pernapasan yang diduga dampak pencemaran udara akibat limbah TPAS.
“Saya pernah sakit paru-paru, kesulitan bernapas dan dirawat di rumah sakit (RS), dua kali. Awalnya dirawat di RS Muhammadiyah, biaya berobat pinjam sama saudara, kedua dirawat enam bulan dan sampai dengan sekarang rutin sebulan sekali melakukan kontrol,” kata Suyatno, Kamis, 8 Desember 2022.
Padahal, sebelumnya Pemerintah telah mengesahkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Sampah. Seperti termaktub pada pasal 32, Pemerintah punya tanggung jawab untuk memberi kompensasi kepada setiap warga yang terkena dampak negatif dari kegiatan di TPAS.

Sejak 37 tahun lalu, lanjut Suyatno, dirinya tidak pernah terima bantuan dari pemerintah sebagai kompensasi bagi warga terdampak yang tinggal di sekitar TPAS Karangrejo.
“Dampak negatif bukan terjadi ke saya saja, banyak juga warga lain yang merasakan penyakit pernapasan. Bahkan, sampai ada yang meninggal karena mengidap penyakit paru-paru,” katanya.
“Saya pernah mau dikasih bingkisan, tapi saya tolak karena hanya diperuntukan 35 orang. Mau saya, semua warga lingkungan 09 dan sekitarnya juga kebagian,” tutur Suyatno.
Sementara warga sekitar TPAS, Suwardi mengatakan, dirinya juga menderita penyakit paru-paru. Karena kondisi tersebut, ia kesulitan bernapas.
“Sudah ada sebulan saya sakit. Ketika di RS, yang saya rasakan salah satunya kesulitan bernapas. Empat hari dirawat di ruang ICU. Ketika lihat hasil rontgen, ternyata sakit paru,” katanya.
” Selama 18 tahun leboh saya tinggal di sini (sekitar TPAS), selama itu juga belum ada bantuan maupun sekadar petugas yang datang untuk periksa keaehatan warga-warga,” pungkas Suwardi. (Msf)

COMMENTS