DPRD Kota Metro dan Posyandu: Komisi II memastikan layanan tak terbengkalaiWakil Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Roma Doni Yunanto. [ADVERTORIAL]

HomeBerita

DPRD Kota Metro dan Posyandu: Komisi II memastikan layanan tak terbengkalai

"Setiap bulan kami datang ke Posyandu, tapi timbangan bayi sering rusak, alat ukur tinggi badan juga sudah tua. Bagaimana kami bisa memastikan anak-anak tumbuh dengan baik jika fasilitasnya saja tidak layak?"

Tiga Raperda usulan Pemkot Metro resmi ditetapkan sebagai Perda
Hearing DPRD Metro soal stimulus PBB-P2 belangsung alot
DPRD tagih janji Walikota Metro

MEDIATOR.ID, Metro – Rumah sederhana di sudut Jalan Pepaya, Metro Pusat, menjadi saksi bisu pertemuan yang sarat makna. Masyarakat berkumpul, membawa harapan dan keresahan yang selama ini menggumpal di dada. Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Roma Doni Yunanto, berdiri di tengah mereka, mendengarkan setiap keluh kesah yang mengalir seperti sungai mencari muara.

Usulan tentang infrastruktur dan drainase mengemuka, namun satu kebutuhan mendesak menyelinap dalam percakapan: Posyandu. Tempat yang seharusnya menjadi benteng pertama bagi kesehatan ibu dan anak mulai menunjukkan kerentanan. Sarana dan prasarana yang terbatas menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat.

Seorang ibu tiba-tiba angkat bicara, suaranya bergetar, tetapi penuh ketegasan. “Setiap bulan kami datang ke Posyandu, tapi timbangan bayi sering rusak, alat ukur tinggi badan juga sudah tua. Bagaimana kami bisa memastikan anak-anak tumbuh dengan baik jika fasilitasnya saja tidak layak?”

Roma Doni Yunanto menatap ibu itu dengan penuh perhatian. “Kami akan kawal ini,” ujarnya tegas. “Posyandu harus mendapatkan perhatian yang layak, seperti halnya infrastruktur lain yang menjadi prioritas pembangunan.”

Gang-gang sempit yang dihiasi pepohonan rindang menyimpan kisah tentang perjuangan. Posyandu berdiri bukan sekadar sebagai tempat layanan kesehatan, melainkan sebagai ruang harapan bagi kehidupan yang baru dimulai.

Seorang ibu datang dengan langkah ragu, menggendong bayinya yang masih merah. Senyuman hangat para kader menyambutnya, memastikan tumbuh kembang si kecil berjalan sebagaimana mestinya. Namun, di balik keramahan itu, realitas tak bisa disembunyikan. Timbangan yang sudah usang, kursi yang patah, obat-obatan yang sering terlambat datang, serta atap yang bocor saat hujan menjadi tantangan yang belum teratasi.

Seorang kader Posyandu menambahkan dengan nada prihatin, “Kami ingin memberikan yang terbaik untuk masyarakat, tetapi kalau fasilitasnya seperti ini, bagaimana?”

Kehadiran Posyandu bukan hanya soal pelayanan kesehatan, tetapi juga tentang kepercayaan masyarakat terhadap sistem yang menaunginya. Ketika fasilitasnya terbengkalai, bagaimana mungkin masyarakat yakin akan masa depan kesehatan generasi berikutnya?

Roma Doni Yunanto, dalam reses yang berlangsung di kediaman Mbah Sunyoto, menyerap setiap aspirasi yang disampaikan warga. Banyak harapan yang dititipkan, namun keberlanjutan dan kualitas Posyandu menjadi salah satu yang paling mendesak untuk dikawal.

“Jalan dan drainase memang menjadi fokus utama, tetapi Posyandu juga tidak boleh diabaikan. Sarana dan prasarana harus kita perjuangkan agar lebih layak,” ujar Doni dengan tegas.

Tanggung jawab besar terletak pada pundak para pemangku kebijakan. Fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan yang melekat pada DPRD harus digunakan secara optimal agar Posyandu mendapatkan dukungan maksimal.

Kebijakan yang berpihak pada kesehatan ibu dan anak menjadi kunci utama dalam memastikan masa depan yang lebih baik. Peraturan daerah yang menjamin pengalokasian anggaran bagi Posyandu harus diperkuat. Tidak cukup hanya membangun gedung tanpa memastikan kelengkapan fasilitas dan keberlanjutan program di dalamnya.

Anggaran menjadi denyut nadi bagi operasional Posyandu. Pengalokasian dana yang tepat dapat memastikan tersedianya alat kesehatan yang memadai, pelatihan bagi kader, serta penyediaan gizi tambahan bagi balita yang membutuhkan. Pengawalan ketat dari DPRD diperlukan agar anggaran tersebut benar-benar digunakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Seorang warga yang ikut menyimak diskusi menyela, “Tolong, jangan hanya janji. Kami ingin melihat tindakan nyata!”

Roma Doni Yunanto mengangguk, “Kami tidak bisa berjanji kapan, tetapi yang jelas akan kami perjuangkan semampu kami.”

Janji yang terucap dalam forum reses harus dibuktikan dengan aksi nyata. Pengawasan terhadap implementasi program menjadi langkah penting agar harapan masyarakat tidak berakhir sebagai sekadar wacana. Inspeksi mendadak ke Posyandu dapat menjadi langkah awal untuk menilai kondisi sebenarnya di lapangan.

Dialog terbuka dengan masyarakat dan kader Posyandu juga harus terus dilakukan. Suara mereka adalah cerminan dari kondisi yang ada, sekaligus menjadi pengingat bagi para pemimpin bahwa amanah yang diemban bukanlah hal yang bisa diabaikan.

Setiap bayi yang ditimbang di Posyandu membawa harapan yang begitu besar. Mereka adalah generasi yang akan meneruskan perjalanan panjang kota ini. Memberikan sarana dan prasarana yang layak bagi mereka bukan hanya tentang memenuhi kewajiban, tetapi juga tentang memastikan bahwa masa depan berdiri di atas fondasi yang kuat.

DPRD Kota Metro, dengan segala kewenangan yang dimiliki, harus memastikan bahwa Posyandu tidak hanya sekadar ada, tetapi benar-benar berfungsi sebagai benteng kesehatan masyarakat. Aspirasi rakyat telah disampaikan, kini saatnya mengawal agar janji yang terucap tidak hilang ditelan waktu. [ADVERTORIAL]

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: