Langkah-langkah di atas aspal retak: Roma Doni dan simfoni aspirasi wargaWakil Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Roma Doni Yunanto. [ADVERTORIAL]

HomeBerita

Langkah-langkah di atas aspal retak: Roma Doni dan simfoni aspirasi warga

“Saya sering lewat jalan itu pakai motor, kalau hujan, lubangnya tertutup air, jadi nggak kelihatan. Bahaya kalau tiba-tiba masuk lubang."

DPRD Metro sepakati KUPA-PPAS APBD 2021
Menabur asa di Kota Metro: Ahmad Kuseini dan bisikan rakyat
DPRD Kota Metro dan Posyandu: Komisi II memastikan layanan tak terbengkalai

MEDIATOR.ID, Metro – Langit Kota Metro memayungi pertemuan yang penuh makna. Suara-suara mengalun, menyatu dalam satu ritme yang menggema di sebuah sudut Kelurahan Yosomulyo. Kediaman Mbah Sunyoto di Jalan Pepaya menjadi saksi bisu bagaimana harapan dan keresahan warga terhimpun dalam sebuah diskusi yang sarat makna.

Wakil Ketua Komisi II DPRD Kota Metro, Roma Doni Yunanto, hadir sebagai pendengar yang bertanggung jawab. Reses ini bukan sekadar pertemuan rutin, tetapi ruang di mana kata-kata tak sekadar diucapkan, melainkan didengar, dipahami, dan dijanjikan untuk diperjuangkan.

Banyak hal yang disampaikan warga, mulai dari jalan yang berlubang hingga drainase yang tak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa ibu-ibu pun bersuara tentang posyandu yang kian terbatas fasilitasnya.

“Kami ingin jalan diperbaiki, Pak. Hujan sebentar saja, sudah susah lewat,” ucap seorang warga, wajahnya menyiratkan kelelahan atas kondisi yang telah berlangsung lama.

Roma Doni Yunanto mendengarkan dengan saksama. “Infrastruktur menjadi skala prioritas,” ujarnya, meyakinkan bahwa keluhan ini bukan sekadar angin lalu. “Kami akan mengawal ini bersama-sama.”

Setiap kota memiliki nadinya sendiri. Jalan adalah urat yang menghubungkan kehidupan, mengalirkan arus manusia dari rumah ke tempat kerja, dari sekolah ke pasar, dari impian menuju kenyataan. Namun, Metro masih bergulat dengan kenyataan bahwa beberapa ruas jalan telah kehilangan daya tahannya.

Retakan kecil yang diabaikan menjelma lubang-lubang besar. Aspal yang dulunya mulus kini dihiasi jejak waktu, menjadi pengingat bahwa pembangunan membutuhkan kesinambungan.

“Saya sering lewat jalan itu pakai motor, kalau hujan, lubangnya tertutup air, jadi nggak kelihatan. Bahaya kalau tiba-tiba masuk lubang,” keluh seorang pemuda yang setiap hari harus melintasi jalan rusak menuju tempat kerjanya.

Roma Doni mengangguk, memahami betul kekhawatiran itu. Infrastruktur jalan tidak hanya mempermudah mobilitas, tetapi juga menjadi cermin bagaimana sebuah kota memperlakukan penghuninya. Aspirasi ini dicatat, dimasukkan dalam pokok-pokok pikiran yang akan diperjuangkan di DPRD.

Air memiliki caranya sendiri dalam mengajarkan kehidupan. Saat ia mengalir dengan teratur, kesejukan dan kesuburan tercipta. Namun, saat tertahan dan tersumbat, ia membawa bencana. Kota Metro masih menyimpan kisah tentang genangan yang enggan surut, tentang drainase yang gagal menjalankan tugasnya.

Seorang bapak paruh baya menyampaikan kegelisahannya, “Hujan sebentar saja, air sudah masuk ke rumah. Drainasenya mampet, sampah menumpuk, air nggak bisa mengalir.”

Roma Doni mendengarkan keluhan itu dengan serius. “Tahun 2025 dan 2026, kami di badan anggaran akan fokus pada penanganan banjir,” ujarnya. Pernyataannya bukan sekadar janji, melainkan komitmen yang akan dikawal dalam setiap diskusi anggaran.

Setiap musim hujan, kecemasan tumbuh bersama tetes-tetes air yang jatuh dari langit. Saluran air yang tidak berfungsi dengan baik mengubah jalan menjadi sungai dadakan, menggenangi rumah-rumah, dan menyisakan lumpur serta kelelahan.

Di balik hiruk-pikuk pembangunan fisik, terdapat kebutuhan yang lebih mendasar—kesehatan masyarakat. Posyandu, sebagai titik awal layanan kesehatan bagi bayi, ibu hamil, dan lansia, sering kali terpinggirkan dalam arus prioritas.

“Kami butuh timbangan bayi yang baru, Pak. Yang lama sudah rusak,” ujar seorang kader posyandu. “Obat-obatan juga sering kosong.”

Roma Doni mencatat dengan saksama. Masyarakat yang sehat adalah fondasi bagi kota yang maju. Tidak boleh ada satu pun nyawa yang merasa terabaikan hanya karena fasilitas kesehatan yang kurang memadai.

Membangun kota tidak bisa dilakukan dengan tergesa-gesa, seperti melukis tidak bisa hanya dengan satu warna. Setiap elemen harus berada dalam keseimbangan-jalan yang kuat, drainase yang berfungsi, fasilitas umum yang terawat, serta sistem transportasi yang efisien.

Metro memiliki potensi besar untuk menjadi kota dengan infrastruktur ideal. Jalan utama harus memiliki lebar yang cukup untuk menampung arus kendaraan yang terus bertambah. Permukaan jalan perlu menggunakan material berkualitas agar tahan terhadap cuaca dan beban berat.

Drainase harus dirancang agar air menemukan jalannya tanpa mengganggu keseharian warga. Setiap hujan turun, air harus mengalir ke tempat yang seharusnya, bukan menciptakan genangan yang menyulitkan kehidupan.

Pejalan kaki berhak mendapatkan trotoar yang aman dan nyaman. Jalur khusus untuk penyandang disabilitas harus menjadi standar dalam setiap pembangunan infrastruktur. Pepohonan yang berjajar rapi akan memberikan keteduhan, menjadikan jalan-jalan di Metro lebih ramah bagi siapa saja yang melaluinya.

Transportasi umum yang efisien akan menjadi solusi bagi kemacetan di masa depan. Integrasi antara kendaraan pribadi dan angkutan umum harus dipikirkan secara matang, agar masyarakat memiliki pilihan yang lebih nyaman dan ekonomis.

Teknologi juga harus menjadi bagian dari pembangunan. Smart traffic system, dengan lampu lalu lintas pintar dan sistem pemantauan real-time, dapat membantu mengurai kemacetan dan meningkatkan keselamatan pengguna jalan.

Reses bukan sekadar pertemuan biasa. Ia adalah jembatan yang menghubungkan suara rakyat dengan kebijakan yang akan diambil. Setiap keluhan, setiap harapan, bukan sekadar catatan di atas kertas, tetapi amanah yang harus diperjuangkan.

Roma Doni Yunanto tidak menjanjikan waktu yang pasti. Namun, ia berjanji untuk mengawal setiap aspirasi agar tidak menguap dalam kebisingan birokrasi. Perubahan membutuhkan proses, tetapi proses tidak boleh menjadi alasan untuk menunda harapan.

Kota Metro berada di persimpangan antara kenyataan dan impian. Jalan-jalan yang lebih baik, drainase yang lebih lancar, fasilitas umum yang lebih layak-semua itu bukan lagi sekadar wacana, tetapi harus menjadi kenyataan.

Seperti sungai yang terus mengalir, aspirasi masyarakat tidak boleh terhenti. Kota Metro akan terus bergerak maju, selama ada mereka yang tidak hanya berbicara, tetapi juga berjuang untuk mewujudkan perubahan. [ADVERTORIAL]

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0