Gerakan rakyat: dari muak menjadi kesadaranMassa aksi di depan gedung DPR, Jakarta, 29 Agustus 2025. (Dok. Media Tempo)

HomeOPINI

Gerakan rakyat: dari muak menjadi kesadaran

"Pemimpin adalah cerminan rakyat. Kalau rakyatnya sadar, tak ada tirani yang bisa bertahan."

Bolone Mase Lampung targetkan Prabowo-Gibran menang satu putaran
Anggota DPRD DKI Jakarta Masuk Daftar Penerima Bansos
Relawan 69 Lombok Timur Bagikan Sembako ke Lansia

Setiap gerakan rakyat selalu ada saja yang mencoba menunggangi untuk mencari keuntungan. Itu wajar, dan hampir mustahil dihindari. Tapi, hal itu jangan sampai mengaburkan tujuan utama: membela kepentingan rakyat. Selama semangat perjuangan tetap hidup, maka kepentingan kecil dari orang-orang yang hanya ingin mencari untung akan kalah di hadapan kekuatan rakyat.

Kebenaran memang selalu lebih kuat daripada tipu daya. Tapi kalau kebohongan terus dibiarkan, ia bisa membesar menjadi badai yang merusak. Inilah yang kita lihat hari ini: DPR dan POLRI dinilai sudah tidak lagi berpihak kepada rakyat. Bukannya menjadi wakil dan pelindung, mereka justru sering tampak sebagai alat kekuasaan.

Demo besar hari ini muncul dari rasa muak, marah, dan kecewa masyarakat. Ini adalah bentuk nyata dari ketidakpercayaan rakyat kepada lembaga negara yang seharusnya melayani, bukan mengkhianati. Rousseau, seorang filsuf, pernah bilang: lembaga hanya punya legitimasi kalau ia mewakili rakyat. Kalau sudah tidak lagi berpihak, rakyat berhak melawan.

Namun, kita juga harus jujur. Demokrasi bukan hanya soal berteriak di jalanan, tapi juga soal kesadaran. Imam Al-Ghazali pernah mengingatkan: pemimpin adalah cerminan masyarakatnya. Artinya, kalau masyarakat masih permisif (memaklumi) terhadap kebohongan, maka lahirlah pemimpin yang penuh kebohongan. Karena itu, demo hari ini seharusnya bukan hanya jadi ledakan emosi, tapi juga titik balik: rakyat harus belajar, lebih kritis, dan lebih berani menolak tipu daya.

Caranya sederhana. Jangan langsung percaya berita tanpa mencari perbandingan. Jangan gampang diprovokasi. Belajar membaca lebih dalam, bukan hanya kulitnya saja. Paulo Freire, seorang pendidik, menyebut hal ini sebagai “kesadaran kritis”–kesadaran untuk tidak mau lagi di-BODOHI.

Puncak gerakan ini bukan sekadar menggulingkan lembaga yang busuk, tapi melahirkan rakyat yang lebih sadar. Karena kalau rakyatnya sadar, tidak ada kekuasaan yang bisa menipu. Kalau rakyatnya kuat, tidak ada aparat yang bisa menindas.

Demo hari ini adalah tanda: rakyat sudah muak. Tapi jangan berhenti pada rasa muak. Dari muak harus lahir kesadaran. Dari kesadaran akan lahir perubahan.

Penulis: Cipta Karsa

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: