"Suara rakyat tidak boleh menjadi gema yang mati di dinding parlemen. Ia harus menjadi suara yang menggema hingga keputusan dibuat." - Wakil Ketua I DPRD Kota Metro, Ahmad Kuseini.
MEDIATOR.ID, Metro – Senja menebarkan cahaya keemasan, membingkai siluet dedaunan yang bergoyang pelan sepanjang Jalan Pattimura. Siluet itu mengiringi langkah warga Metro Utara, datang membawa harapan, keluhan, serta tanya yang menggantung di dada. Gang Ambon, di kediaman seorang wakil rakyat, menjadi saksi pertemuan yang lebih dari sekadar seremonial.
Ahmad Kuseini, Wakil Ketua I DPRD Kota Metro, berdiri di antara mereka. Tatapan matanya menyapu wajah-wajah penuh ekspektasi. Setiap guratan di wajah mereka menyimpan kisah—tentang jalan berlubang, drainase tersumbat, penerangan jalan umum yang tak berfungsi, hingga nasib para petani dan buruh yang terombang-ambing tanpa kepastian. Suara-suara itu melantun, menciptakan harmoni yang tidak hanya terdengar, tetapi juga menggugah perasaan.
Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas yang harus dijalani seorang wakil rakyat, bukan pula acara simbolis yang kerap kehilangan makna di tengah hingar bingar politik. Reses adalah jembatan yang menghubungkan antara mereka yang bersuara dengan mereka yang diberi mandat untuk mendengar.

Dalam dunia politik, reses sering kali dipandang sebagai formalitas—sekadar acara yang harus dijalankan sesuai dengan mekanisme. Namun, bagi Kuseini, ini adalah napas demokrasi, wadah bagi rakyat untuk menumpahkan keluh kesah tanpa sekat, tanpa batas, tanpa takut suara mereka hilang dalam hiruk-pikuk rapat gedung dewan.
“Tali persaudaraan sulit dibentuk,” ucapnya, lembut namun tegas. “Kegiatan ini cara kita merawatnya.”
Politik sering kali terasa berjarak bagi masyarakat. Kata-kata yang mengalir dalam ruang sidang kerap menjadi jargon kosong jika tak diiringi dengan sentuhan nyata di lapangan. Pertemuan seperti ini menjadi cara bagi seorang legislator untuk menyentuh realitas, untuk mendengar langsung denyut nadi masyarakat yang mereka wakili.
Setiap permasalahan yang mencuat dalam reses akan menjadi bahan diskusi serius di DPRD. Namun, tak semua bisa langsung diselesaikan. Ada mekanisme, ada birokrasi, ada tantangan dalam setiap usulan yang masuk. Meski begitu, mendengar langsung dari rakyat adalah langkah awal yang tak boleh diabaikan.
Suara-suara yang memenuhi udara mulai mengerucut ke permasalahan konkret.
“Penerangan jalan di beberapa titik masih gelap,” ujar seorang pria paruh baya yang mengenakan kopiah hitam. “Kami khawatir saat melintas di malam hari.”

Seorang ibu dengan wajah letih mengangkat tangan, suaranya lirih namun sarat kepedihan. “Pelayanan kesehatan terlalu sulit bagi kami yang sudah tua. Sistem online mempersulit kami yang tak paham teknologi.”
Seorang petani, yang kulitnya terbakar matahari, mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk. “Sudah berkali-kali kami mengusulkan di Musrenbang, tapi tetap belum ada realisasi,” tuturnya.
Setiap keluhan itu diurai satu per satu oleh Kuseini. “Tugas DPRD salah satunya legislasi, merancang peraturan daerah,” ungkapnya. “Usulan mengenai kontrakan lebih tertib, kos-kosan lebih teratur, itu bisa dibahas.”
Setiap persoalan yang disampaikan memiliki benang merah yang sama: keinginan untuk kehidupan yang lebih baik. Tidak ada yang meminta sesuatu yang mustahil, tidak ada tuntutan yang berlebihan. Yang mereka inginkan hanyalah hak dasar sebagai warga kota—jalan yang layak, penerangan yang cukup, layanan kesehatan yang mudah diakses.
Anggaran sering kali menjadi kata kunci dalam setiap pertemuan seperti ini. Masyarakat menginginkan perubahan, tetapi realisasi tak semudah membalikkan telapak tangan.
“Anggaran terdengar besar, namun harus dibagi untuk banyak kebutuhan,” ungkapnya. “Maka dari itu, harus realistis dalam menentukan prioritas.”

Pembangunan harus dilakukan bertahap, dengan menimbang berbagai aspek, termasuk kesiapan daerah dalam mengeksekusi program. Infrastruktur bukan hanya soal membangun jalan dan jembatan, tetapi juga memastikan bahwa setiap proyek berjalan sesuai rencana, tanpa ada kendala di tengah jalan.
Masyarakat sering kali tak memahami rumitnya birokrasi di balik pengalokasian anggaran. Bagi mereka, yang penting adalah hasil—jalan yang mulus, penerangan yang menyala, fasilitas kesehatan yang mudah dijangkau. Namun, bagi seorang legislator, ada proses panjang yang harus ditempuh, ada rapat-rapat yang harus dijalani, ada perdebatan yang harus dimenangkan.
Kuseini tidak menjual mimpi. Tidak ada janji perubahan sekejap, tetapi ada komitmen untuk memastikan suara rakyat tetap menggema di parlemen. Politik yang baik harus mampu menyeimbangkan idealisme dengan realita, memperjuangkan keadilan dalam keterbatasan.
Metro sedang berada di persimpangan. Kota ini memasuki era baru dengan kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang baru dilantik, Bambang Iman Santoso dan Muhammad Rafieq Adi Pradana.
“Berilah waktu,” ujar Kuseini dengan suara tenang. “Transisi selalu membutuhkan kesabaran. Kesempatan harus diberikan kepada mereka untuk bekerja.”

Setiap kepala daerah memiliki visi dan strategi masing-masing. Tidak semua perubahan bisa dilakukan dalam waktu singkat. Namun, komitmen untuk membangun kota ini harus terus dijaga, tak peduli siapa yang memegang kendali pemerintahan.
Dalam setiap perubahan, akan selalu ada harapan yang menyertai. Metro bukan hanya sekadar kota kecil di ujung provinsi. Metro adalah rumah bagi ribuan jiwa yang menggantungkan impian mereka di setiap keputusan yang diambil oleh para pemimpinnya.
Malam semakin larut, pertemuan mulai usai. Warga berpamitan, meninggalkan halaman rumah yang kini terasa lebih lapang.
Kuseini berdiri di ambang pintu, melihat mereka pergi dengan langkah lebih ringan dibanding saat mereka datang. Aspirasi yang diserap akan dibawa ke dalam ruang sidang, menjadi bagian dari diskusi yang menentukan arah kebijakan kota ini.
Politik bukan sekadar permainan kekuasaan. Politik adalah seni mendengar, merasakan, dan bertindak. Politik adalah bagaimana seorang pemimpin menjadikan dirinya sebagai cermin bagi rakyatnya—agar mereka tidak hanya melihat bayangan, tetapi juga menemukan harapan dalam refleksi itu.
Langkah Kuseini terus berlanjut. Tugas seorang pemimpin bukan hanya berbicara, tetapi memastikan bahwa setiap suara yang terdengar dapat menjadi kenyataan. (Adv)

COMMENTS