Anggaran minim, pangan dijaga dari pekarangan hingga pasar tani

HomeBerita

Anggaran minim, pangan dijaga dari pekarangan hingga pasar tani

“Saat anggaran terbatas, pangan tetap harus terjaga, dan itu dimulai dari hal paling dekat: pekarangan rumah masyarakat.”

Pembelajaran Sekolah Penggerak IHT, Silfia Naharani; harapan besar TK Pertiwi Metro jadi contoh sekolah lain
Mubaraq disambut hangat para penggemar merpati kolong
Eva Dwiana resmikan PST BPS Bandar Lampung

Terbesit di ingatan; seorang ibu rumah tangga berdiri di pekarangan sempit di sekitar rumahnya. Tangannya perlahan memetik cabai merah dari pot sederhana yang disusun di sudut halaman. Jumlahnya tidak banyak. Bagi dapur rumah tangga, hasil panen kecil itu mungkin cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari itu.

Pemandangan yang tampak sederhana. Namun ada proses panjang yang membuatnya menjadi mungkin.

Sebelumnya, saya bikin janji untuk wawancara dengan Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kota Metro, namanya; Pipi Puspita, jadwal ketemu dibuat sehari sebelumnya.

Jum’at, 10 April 2026, perjalanan dimulai dari Sekretariat Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Metro menuju kantor Dinas Pertanian. Jaraknya cukup dekat, tidak sampai 4 kilo meter.

Setelah melalui perjalanan singkat, saya tiba di lokasi, dan saya langsung menuju ruang ‘ketahanan pangan’, sesuai arahan dari narasumber melalui pesan Whatsapp sebelumnya. Tampak aktivitas pegawai berlangsung seperti biasa. Tidak tampak kesibukan yang mencolok, namun pekerjaan tetap berjalan di balik rutinitas tersebut.

Pipi menyambut dengan sikap tenang. Cara bicaranya tidak terburu-buru. Pengalaman panjang di bidang ketahanan pangan terlihat membentuk cara pandangnya dalam menghadapi situasi yang tidak selalu ideal.

Pembicaraan segera mengarah pada persoalan utama: keterbatasan anggaran dan kebutuhan mendasar pangan.

Tahun 2026, alokasi pada bidang ketahanan pangan disebut hanya sekitar Rp15 juta. Sejumlah kegiatan bahkan tidak memiliki anggaran khusus. Dalam kondisi tersebut, program tetap harus berjalan, sementara kebutuhan masyarakat terhadap pangan tidak pernah berhenti.

“Bukan anggaran dulu baru bekerja. Tapi kita buat dulu kegiatannya, kita jalankan, baru nanti dilihat hasilnya,” ujar Pipi.

Kalimat itu menjadi dasar dari berbagai langkah yang diambil.

Pasar tani menjadi salah satu contoh. Program yang mengadopsi konsep dari Kementerian Pertanian ini mempertemukan langsung petani dan konsumen. Rantai distribusi yang lebih pendek membantu menjaga harga tetap terjangkau.

Jumlah pelaku yang terlibat mulanya sekitar 30 orang. Seiring waktu, jumlah tersebut meningkat menjadi lebih dari 70 pelaku. Aktivitasnya bukan lagi sekadar kegiatan sesaat, tapi mulai berjalan rutin di beberapa titik.

Kenaikan harga cabai yang sempat mencapai Rp130.000,- menjadi salah satu pemicu langkah lain. Upaya tidak hanya dilakukan melalui distribusi, tetapi juga mendorong masyarakat menanam secara mandiri.

Waktu itu, Pipi menuturkan, program Gerakan Tanam Pangan Keluarga (Gertapaga) dijalankan dengan memanfaatkan bibit dari Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Penyaluran dilakukan melalui jaringan PKK dan kelompok seperti Kelompok Wanita Tani.

Sekitar 22 ribu bibit cabai telah dibagikan dalam satu periode. Pemanfaatan pekarangan menjadi salah satu pendekatan yang terus didorong agar kebutuhan pangan dapat dipenuhi dari lingkungan sekitar. Langkah tersebut tidak hanya menyasar produksi, tapi juga menyentuh kebiasaan masyarakat agar lebih mandiri.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan konsumsi pangan masyarakat belum sepenuhnya beragam. Ketergantungan pada beras masih tinggi, sementara konsumsi umbi-umbian relatif rendah.

Program Teras Pangan Lokal dijalankan untuk menjawab hal tersebut. Edukasi dilakukan melalui demonstrasi memasak dengan melibatkan kader PKK, memperkenalkan variasi pangan yang lebih beragam, dan pastinya mengutamakan kandungan produk agar bisa memenuhi kebutuhan gizi harian.

Upaya lain berkembang di tingkat komunitas. Sejumlah titik kebun pangan mulai dirancang sebagai lokasi produksi bersama. Dukungan bibit diperoleh melalui kolaborasi dengan Bank Indonesia (BI)

Kebun tersebut harapannya bisa jadi sumber pangan tambahan bagi masyarakat sekitar, sekaligus memperkuat ketersediaan di tingkat lokal.

Dalam menjaga harga agar tetap terjangkau, Gerakan Pangan Murah (GPM) tetap dijalankan. Keterbatasan anggaran mendorong munculnya inisiatif internal berupa subsidi sederhana yang bersumber dari kontribusi pegawai.

Minyak goreng, gula, dan telur dijual dengan harga lebih rendah. Selisih harga ditutup dari kontribusi tersebut.

“Yang penting menyentuh langsung. Tidak harus besar, tapi terasa,” cetus Pipi yang seketika membangun ‘jeda’. Saya bergumam dalam hati; “ternyata masih ada.. yaa.”

Persoalan pangan juga muncul pada bahan yang tidak terjual dan hampir expired. Kolaborasi dengan Foodbank of Indonesia dilakukan untuk memanfaatkan pangan berlebih agar tetap dapat digunakan.

Buah yang masih layak konsumsi diolah menjadi jus, dan dibagikan gratis di antaranya kepada keluarga pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ahmad Yani yang sedang menunggu kesembuhan keluarganya. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar bahan pangan tidak terbuang sia-sia.

Sepanjang percakapan, Pipi lebih banyak menjelaskan proses dibandingkan angka. Program disebut satu per satu, dengan penjelasan bagaimana kegiatan dijalankan dan siapa saja yang terlibat.

Keterbatasan anggaran menjadi kondisi yang dihadapi, sementara pelaksanaan program tetap berlangsung melalui berbagai cara yang tersedia. Pekarangan, pasar tani, kebun komunitas, hingga distribusi pangan murah menjadi bagian dari rangkaian upaya tersebut.

Situasi ini menunjukkan bahwa program tetap berjalan dalam kondisi sumber daya yang terbatas. Tantangan yang muncul tidak hanya pada pelaksanaan, tetapi juga pada keberlanjutan program di masa mendatang.

Waktu wawancara berjalan lebih cepat dari perkiraan. Menjelang siang, percakapan harus diakhiri lebih awal. Hari itu adalah Jumat. Kewajiban sebagai laki-laki yang ta’at untuk menunaikan salat Jum’at membuat pertemuan ditutup sebelum seluruh pertanyaan sempat digali lebih dalam.

Keluar dari ruang kantor, bayangan ibu yang memetik cabai di pekarangan kecilnya kembali terlintas. Aktivitas sederhana itu tetap berlangsung, menjadi bagian dari cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Upaya yang dilakukan mungkin tidak besar, namun tetap berjalan dalam keterbatasan.

(CK)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: