“Memang saya kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi saya lihat ada peluang usaha di kampus, apalagi saya sudah lama di lingkup mahasiswa."
Mentari baru saja menampakkan diri, namun roda kehidupan di Kota Metro telah berputar. Di salah satu sudut kota, seorang gadis dengan semangat yang tak mudah padam sibuk menjemput rezekinya. Tanti Yoseva, nama yang mungkin asing bagi banyak orang, adalah sosok yang tak kenal lelah, berjuang membangun usaha sambil menyelesaikan pendidikan tinggi di perantauan. Dingin embun pagi yang menyelimuti kota tidak menghalanginya untuk bergerak, bahkan sejak mentari baru menampakkan sinar keemasannya di ufuk timur.
Hari itu, Tanti kembali menjalankan rutinitas yang telah ia jalani sejak empat tahun terakhir. Dengan cekatan, ia memacu sepeda motornya, mengantarkan pesanan papan bunga akrilik yang telah ia susun rapi di bagian belakang kendaraan roda duanya. Tujuannya kali ini adalah Kampus II IAIN Metro, tempat yang tak asing baginya. Di sanalah ia menghabiskan sebagian besar waktu sebagai mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Kampus yang kini menjadi salah satu pusat usahanya sekaligus tempat di mana ia belajar menjadi pribadi yang mandiri.
Begitu tiba di kampus, Tanti dengan hati-hati menurunkan lembaran papan bunga yang terselip di antara pegangan motornya. Ia menempatkannya dengan rapi di salah satu sudut gedung, lokasi yang mudah ditemukan oleh pemesan. Wajahnya sedikit lelah, namun ada kilatan semangat yang tak pernah padam dari sorot matanya. Bagi Tanti, lelah adalah teman akrab dalam perjalanan hidup yang ia pilih. Sebagai pendatang dari Suoh, Lampung Barat, perjuangannya di Kota Metro adalah kisah tentang tekad, kreativitas, dan keinginan untuk mandiri.
“Saya di Metro ini sebenarnya pendatang,” ucap Tanti dengan nada ramah ketika ditemui di sela-sela kesibukannya, Jumat, 8 November 2024. “Saya asli dari Suoh, Lampung Barat. Saya merantau ke sini untuk kuliah, dan sekarang sudah lulus, sudah wisuda,” tambahnya, senyum kecil mengembang di bibirnya. Meski telah menuntaskan pendidikan S1, ia memilih untuk tetap tinggal di kota ini demi mengembangkan usaha yang telah dirintisnya sejak tahun 2019.
Dengan modal keterampilan membuat kerajinan tangan, Tanti mendirikan sebuah bisnis jasa sewa papan bunga akrilik dan pembuatan selempang wisuda. Ia sadar bahwa di lingkungan kampus, khususnya bagi mahasiswa tingkat akhir, kebutuhan akan papan bunga dan selempang cukup tinggi. Momen-momen seperti seminar proposal atau sidang skripsi kerap kali dirayakan dengan pernak-pernik sederhana namun bermakna seperti itu. “Saya lihat teman-teman banyak yang butuh papan bunga dan selempang untuk acara mereka. Awalnya iseng coba-coba bikin, ternyata banyak yang suka dan pesan,” ceritanya.
Meski latar belakang pendidikannya tidak secara langsung berkaitan dengan dunia usaha, Tanti menekuni bisnis ini dengan serius. Lewat media sosial, ia memasarkan hasil kerajinannya yang berlabel “Kawan Pelajar.” Dari platform digital tersebut, perlahan usahanya mulai dikenal dan diminati banyak orang, bahkan hingga ke luar Kota Metro. Ia pun memiliki komitmen kuat untuk terus melayani pelanggan sebaik mungkin, karena baginya kepuasan pelanggan adalah hal yang utama.
“Memang saya kuliah di jurusan Pendidikan Agama Islam, tapi saya lihat ada peluang usaha di kampus, apalagi saya sudah lama di lingkup mahasiswa,” ungkapnya. “Jadi ya, saya manfaatkan kesempatan ini. Selama bisa membantu kebutuhan teman-teman, kenapa tidak? Apalagi, saya bisa mengembangkan diri juga di bidang ini,” lanjutnya dengan mata berbinar.
Seiring berjalannya waktu, jerih payah Tanti mulai membuahkan hasil. Usaha yang dulu dimulai dengan modal sederhana kini berkembang pesat. Setiap musim wisuda tiba, ia bisa meraup omzet antara Rp4 juta hingga Rp5 juta per bulan. Tanti menjelaskan bahwa harga selempang buatannya bervariasi. Selempang wisuda, misalnya, dijual seharga Rp60 ribu per unit. Sedangkan papan bunga akrilik yang berdesain mirror dibanderol antara Rp65 ribu hingga Rp75 ribu, tergantung pada ukuran dan tingkat kerumitannya.
“Kalau lagi ramai, kadang omzetnya bisa lebih dari itu,” ujarnya sembari menatap hasil karyanya dengan bangga. Meskipun ia tak mengenyam pendidikan formal di bidang bisnis, Tanti belajar dari pengalaman, mencoba memahami selera pasar, dan beradaptasi dengan kebutuhan pelanggan.
Baginya, usaha ini bukan hanya soal mencari keuntungan, tetapi juga tentang hidup mandiri. Sebagai anak perantauan, ia memiliki impian untuk tidak hanya mencukupi kebutuhannya sendiri, tetapi juga ikut membantu keluarganya di kampung halaman. “Sekarang Alhamdulillah sudah bisa beli apa-apa sendiri. Bahkan bisa mengirimkan uang untuk orang tua di kampung,” ucapnya penuh syukur.
Tanti menyadari bahwa perjalanan bisnisnya masih panjang. Meski kini usahanya mulai stabil, ia tetap ingin mempertahankan model bisnis yang sederhana. “Saya pengen fokus di sini, tapi mungkin nanti coba kembangkan ke produksi seragam atau kaus. Niatnya tetap ingin dijalankan dari rumah, tanpa harus sewa kios. Jadi uangnya bisa diputar untuk modal usaha lain,” ungkapnya, menggambarkan visi yang sederhana namun realistis.
Langkah Tanti mengembangkan bisnisnya di lingkungan kampus sebetulnya menjadi bukti nyata bahwa peluang bisa hadir di mana saja. Ia tak menunggu kesempatan datang, melainkan menciptakannya sendiri. Baginya, setiap hari adalah kesempatan untuk belajar, baik dari pengalaman diri sendiri maupun dari respons pelanggan. Dari kegigihannya dalam menghadapi berbagai tantangan, Tanti menunjukkan bahwa semangat pantang menyerah dapat membawa perubahan besar dalam hidup seseorang.
Tanti adalah sosok inspiratif bagi banyak mahasiswa lain yang mungkin masih ragu untuk memulai usaha. Melalui kisahnya, ia memberikan pelajaran berharga bahwa keberanian dan tekad bisa menjadi modal utama untuk meraih kesuksesan. Menjalani dua peran sekaligus sebagai mahasiswa dan pelaku usaha tentu bukan hal mudah, tetapi Tanti menunjukkan bahwa hal tersebut bukanlah hal yang mustahil.
“Yang penting adalah percaya diri dan berani mencoba,” katanya. “Awalnya memang tidak mudah, tetapi dengan kemauan dan tekad yang kuat, segala tantangan bisa dilewati.”
Dalam dunia bisnis yang kini kian kompetitif, Tanti percaya bahwa kunci untuk bertahan adalah dengan terus berinovasi dan menjaga kualitas produk. Ia terus memperbaiki keterampilannya, mencari inspirasi baru, dan berusaha untuk memenuhi harapan pelanggan. Dari jerih payahnya merintis usaha hingga mampu hidup mandiri di perantauan, Tanti adalah bukti bahwa mimpi bisa diraih siapa saja, asalkan ada kemauan untuk berjuang.
Penulis: Anggi. P
Editor: CK

COMMENTS