Pemkot Metro dorong transformasi infrastruktur hijau di forum nasionalWali Kota Metro, Bambang Iman Santoso dalam forum ICI 2025, di Jakarta Convention Center. (ADVERTORIAL)

HomeBerita

Pemkot Metro dorong transformasi infrastruktur hijau di forum nasional

"Pemerintah Kota Metro hadir di panggung nasional dengan peta jalan pembangunan berwawasan lingkungan dan sosial, sebagai penanda arah baru pembangunan daerah."

Serap aspirasi masyarakat Jabung, Ela-Azwar akan berikan solusi ini!
Nasib 540 THL Metro menggantung, KNPI minta Pemkot tidak lepas tangan
Bupati lantik lima Pejabat Pemkab Lampura

MEDIATOR.ID, Jakarta – Wali Kota Metro, Bambang Iman Santoso, memperkenalkan arah baru pembangunan kotanya melalui enam pilar infrastruktur hijau dalam forum International Conference on Infrastructure (ICI) 2025 di Jakarta Convention Center, Rabu, 11 Juni 2025.

Dalam forum tingkat nasional itu, ia menegaskan komitmen menjadikan Metro sebagai kota pionir pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

“Setiap infrastruktur yang dibangun hari ini harus memberi manfaat bagi generasi mendatang,” ujar Bambang di hadapan jajaran menteri, kepala daerah, duta besar, serta investor domestik dan global yang hadir dalam pembukaan forum yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah.

Bambang menyampaikan bahwa pembangunan di Metro kini tidak lagi didorong oleh kuantitas semata. Orientasi pembangunan fisik bergeser menuju pendekatan holistik yang menyeimbangkan aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Transformasi itu tertuang dalam Roadmap Infrastruktur Hijau Metro 2045, sebuah kerangka kebijakan yang terdiri dari enam pilar utama.

1. Perencanaan Jangka Panjang Berbasis Ketahanan Sosial dan Ekologis
Pilar pertama menempatkan pentingnya perencanaan pembangunan jangka panjang yang menyatu dengan perlindungan lingkungan hidup, pemerataan akses, serta daya tahan sosial-ekonomi. Bambang menyebut kota tidak bisa dibangun hanya berdasarkan target tahunan, melainkan harus dipandu oleh visi yang berjangka puluhan tahun, dengan mempertimbangkan kerentanan masyarakat dan ekosistem.

2. Konstruksi Ramah Lingkungan dan Material Rendah Karbon
Pilar kedua menekankan pemanfaatan teknologi konstruksi yang ramah lingkungan. Pemerintah Kota Metro mendorong penggunaan material rendah karbon, sistem pengelolaan limbah konstruksi, serta penerapan prinsip green building pada setiap bangunan publik. Langkah ini dinilai penting untuk menekan jejak karbon dalam sektor pembangunan infrastruktur.

3. Efisiensi Energi dalam Pelayanan Publik
Pilar ketiga menyasar efisiensi energi secara sistematis. Fasilitas publik, seperti kantor pemerintahan dan ruang layanan masyarakat, secara bertahap akan dilengkapi panel surya dan sistem manajemen energi. Tujuannya menekan konsumsi listrik tanpa mengorbankan kenyamanan dan kualitas pelayanan.

4. Adaptasi terhadap Krisis Iklim dan Bencana Alam
Merespons meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim, pilar keempat difokuskan pada pembangunan koridor hijau dan sistem drainase alami. Infrastruktur ini dirancang tidak hanya untuk mengatasi genangan dan banjir, tetapi juga untuk menghadapi anomali suhu ekstrem serta gangguan iklim lain yang kian intensif di wilayah tropis.

5. Peningkatan Kualitas Hidup Masyarakat
Pilar kelima menyasar dimensi sosial dari pembangunan. Pemerintah Kota Metro berkomitmen memperluas cakupan transportasi publik, memperbanyak ruang terbuka hijau, serta meningkatkan layanan dasar seperti air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah. Infrastruktur diarahkan agar benar-benar menyentuh dan memperbaiki kualitas hidup warga.

6. Pertumbuhan Ekonomi Lokal Berbasis Ekonomi Hijau
Pilar terakhir menekankan pentingnya menjadikan infrastruktur sebagai pengungkit pertumbuhan ekonomi lokal. Setiap proyek pembangunan diarahkan untuk membuka peluang investasi, menciptakan lapangan kerja, dan menghidupkan sektor-sektor produktif, terutama yang berbasis ekonomi hijau seperti pertanian organik, industri kreatif, dan energi terbarukan.

Dalam forum yang dibuka oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Wilayah, Agus Harimurti Yudhoyono, kehadiran Metro menjadi salah satu sorotan karena membawa perspektif pembangunan dari kota kecil yang berani mengusung agenda hijau secara sistematis.

Konferensi ICI 2025 diikuti oleh lebih dari 5.000 peserta dan menghadirkan lebih dari 120 pembicara dari 33 negara. Pemerintah pusat menawarkan 46 proyek strategis senilai hampir Rp200 triliun kepada investor global. Namun, Metro tampil bukan sebagai penjual proyek, melainkan penyampai gagasan: bahwa kota kecil pun mampu merumuskan arah pembangunan nasional dari perspektif keberlanjutan.

“Kami sadar bahwa pembangunan tidak bisa berjalan sendiri. Kami membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat untuk terlibat aktif,” pungkas Bambang.

Dengan enam pilar yang telah disusun, Metro menempatkan diri dalam peta baru pembangunan Indonesia: kota kecil dengan ambisi besar untuk membangun masa depan yang lebih adil dan lestari. (ADVERTORIAL)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: