Wali Kota Metro tegaskan Pancasila bukan seremonial: harus hidup dalam perilaku wargaWalikota dan Wakil Walikota Metro foto bersama pasca upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 di Halaman Kantor Pemkot. (Advertorial)

HomeBerita

Wali Kota Metro tegaskan Pancasila bukan seremonial: harus hidup dalam perilaku warga

“Kesaktian Pancasila tidak boleh berhenti di seremoni tahunan. Ia harus hidup dalam perilaku kita setiap hari.” - Bambang Iman Santoso.

Terjerat Kasus Korupsi, Hakim Putuskan Hukuman 4 Tahun Penjara ke Kadiskes Lampura
Webinar Pascasarjana UMM, Wahdi: pemerintah dan akademisi harus kolaborasi
Gotong royong dan pelestarian alam, Andy Roby gaungkan nilai Pancasila

MEDIATOR.ID, Metro – Pemerintah Kota Metro menggelar Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 di Halaman Kantor Wali Kota Metro pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Upacara yang berlangsung sejak pagi itu berjalan khidmat, dipimpin langsung oleh Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso selaku inspektur upacara. Hadir pula jajaran Forkopimda, ASN, TNI, Polri, unsur masyarakat, hingga ratusan anggota Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas).

Dalam momentum peringatan nasional tersebut, Wali Kota Metro menegaskan kembali urgensi Pancasila sebagai dasar negara yang tak boleh diperlakukan sebatas simbol ataupun ritual tahunan.

Bambang menilai bahwa konsistensi mengamalkan nilai-nilai Pancasila merupakan faktor fundamental untuk menjaga persatuan bangsa, terlebih dalam dinamika sosial yang terus berubah.

“Kesaktian Pancasila bukan hanya sesuatu yang kita kenang setiap 1 Oktober. Pancasila harus hadir dalam tindakan kita sehari-hari. Jangan pernah lengah terhadap ancaman yang mencoba mengikis nilai kebangsaan,” ujar Bambang.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Pancasila Perekat Bangsa Menuju Indonesia Raya”. Tema tersebut, menurut Bambang, sejalan dengan komitmen Pemkot Metro dalam merawat persatuan dan menghidupkan kesadaran generasi muda terhadap nilai toleransi, gotong-royong, dan sikap saling menghormati.

Upacara dimulai dengan penghormatan kepada arwah pahlawan revolusi yang gugur membela ideologi negara, diikuti dengan prosesi mengheningkan cipta. Keseluruhan rangkaian berlangsung tertib, mengandung muatan reflektif tentang pentingnya mempertahankan integritas bangsa dari segala bentuk ancaman ideologis.

Di hadapan seluruh peserta, Bambang turut memberikan pesan khusus kepada para ASN. Ia menekankan bahwa aparatur pemerintah memegang peran penting dalam menjaga citra negara melalui perilaku, pelayanan, dan integritas.

“Kita ini pelayan masyarakat. Saya berharap ASN Metro menunjukkan kinerja terbaik, menjaga integritas, dan menjadikan nilai Pancasila sebagai pedoman kerja,” ujar Bambang menegaskan.

Upacara ditutup dengan doa bersama lintas agama sebagai simbol kerukunan yang menjadi fondasi keberagaman di Metro. Suasana haru menyelimuti prosesi akhir, mencerminkan komitmen kolektif masyarakat untuk merawat Pancasila sebagai rumah bersama.

Usai upacara, Wali Kota Bambang bersama Wakil Wali Kota Rafieq Adi Pradana menyempatkan diri menyapa ratusan anggota Satlinmas. Ia memberikan pengarahan langsung terkait peran strategis Satlinmas dalam menjaga keamanan lingkungan.

Dalam arahannya, Bambang menilai bahwa tugas Satlinmas bukan sekadar formalitas kedinasan, melainkan bagian vital dari jaring pengaman sosial. Salah satu program sederhana namun sangat efektif menurut Bambang adalah ronda malam.

“Ronda malam harus dihidupkan kembali. Ini bagian dari kearifan lokal yang sudah terbukti menjaga keamanan lingkungan dan memperkuat rasa kebersamaan warga,” ujarnya.

Data Pemerintah Kota menunjukkan bahwa Metro memiliki 220 personel Satlinmas yang tersebar di lima kecamatan dan 22 kelurahan. Bambang menekankan bahwa jumlah tersebut harus mampu menjadi penggerak sinergi antara RT, RW, serta warga dalam membangun keamanan berbasis komunitas.

“Satlinmas tidak boleh hanya menjadi nama dalam struktur kelurahan. Mereka harus menggerakkan masyarakat. Setiap kelurahan punya 10 personel, manfaatkan itu untuk memastikan keamanan wilayah,” tutur Bambang.

Bambang juga menyampaikan pesan yang lebih filosofis: bahwa keamanan tidak semata-mata tercipta dari perangkat formal, tetapi juga dari rasa saling peduli antar warga.

“Kebersamaan melahirkan kepedulian, kepedulian menciptakan rasa aman. Metro harus bebas dari titik-titik rawan. Kita ingin kota ini nyaman untuk semua,” ujarnya menutup pernyataan.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Metro tahun ini bukan hanya refleksi historis, tetapi juga momentum politik kebijakan. Di bawah kepemimpinan Bambang Iman Santoso, Pancasila diposisikan bukan sekadar ideologi, melainkan instrumen operasional dalam tata kelola sosial–khususnya keamanan berbasis masyarakat.

Tekanan pada penguatan Satlinmas dan revitalisasi ronda malam menjadi bagian dari strategi memperkuat preventif keamanan. Model ini mengombinasikan nilai gotong royong, musyawarah, dan solidaritas masyarakat–tiga pola yang identik dengan karakter Pancasila.

Jika berhasil diterapkan secara konsisten, kebijakan ini berpotensi mengembalikan Metro sebagai kota yang aman, nyaman, dan partisipatif. (Advertorial)

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: