“Pengalaman puluhan tahun para purna ASN tidak boleh berhenti di meja pensiun. Kota ini masih membutuhkan pemikiran dan kedewasaan mereka.” - Ria Hartini.
MEDIATOR.ID, Metro – Peluncuran dan pengukuhan Persatuan Wredatama Republik Indonesia (PWRI) Kota Metro yang berlangsung di Halaman Wisma Haji Al-Khairiyah, Selasa, 30 September 2025, menjadi momentum penting bagi para purna Aparatur Sipil Negara (ASN) di daerah tersebut.
Acara yang mencakup Penyerahan Kartu Tanda Anggota (KTA) PWRI, Pengukuhan Kesenian Angklung Siger Mas, serta Pengukuhan Warung UMKM Merah Putih itu dihadiri berbagai unsur pimpinan daerah, termasuk Ketua DPRD Kota Metro, Ria Hartini.
Kehadiran Ria Hartini mendapat perhatian karena lembaga legislatif selama ini menjadi mitra strategis pemerintah kota dalam memperkuat kebijakan sosial, pemberdayaan ekonomi, serta pelestarian budaya.

Melalui sambutannya kepada media, Ria menegaskan bahwa kegiatan PWRI tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari upaya kolektif menjaga keberlanjutan pengabdian para purna ASN di masyarakat.
“PWRI adalah rumah kedua bagi para purna ASN yang masih ingin memberikan manfaat. Mereka mungkin tidak lagi berada di balik meja birokrasi, tetapi semangat dan kapasitas mereka tetap dibutuhkan masyarakat,” ujar Ria.
Menurutnya, peluncuran Warung UMKM Merah Putih yang dikelola PWRI menjadi wujud nyata bahwa organisasi itu tidak sekadar menjadi forum berkumpul, tetapi juga motor ekonomi kerakyatan.
Warung tersebut, yang sepenuhnya digagas untuk kegiatan sosial, menawarkan harapan baru tentang bagaimana pemberdayaan ekonomi bisa dilakukan dari komunitas yang sering kali dipandang tidak lagi aktif dalam kegiatan pembangunan.
“Model UMKM seperti ini membuktikan bahwa pemberdayaan tidak mengenal usia. Justru, para purna ASN memiliki pengalaman untuk mengelola usaha secara disiplin dan akuntabel. Kami di DPRD tentu menyambut baik upaya yang berdampak seperti ini,” ujar Ria.

Selain itu, pengukuhan Kesenian Angklung Siger Mas PWRI Kota Metro menjadi sorotan tersendiri. Bagi Ria, kehadiran kelompok angklung tersebut bukan hanya sebuah ruang hiburan, tetapi bentuk pelestarian budaya yang memiliki nilai sosial yang sangat besar. Ia menegaskan bahwa seni tradisional dapat menjadi media perekat sosial di tengah masyarakat modern yang terus berubah.
“Seni angklung ini bukan hanya warisan budaya, tetapi jembatan antar-generasi. Ketika para purna ASN memainkan angklung, kita melihat bagaimana nilai-nilai ketekunan, kebersamaan, dan kesederhanaan diwariskan kepada anak-anak muda,” katanya.
Dalam acara yang berlangsung penuh keakraban itu, Wali Kota Metro Bambang Iman Santoso juga menyampaikan apresiasi atas peluncuran PWRI dan jalannya program-program yang digagas.
Namun, menurut Ketua DPRD, apresiasi tersebut harus ditindaklanjuti dengan dukungan kebijakan yang nyata, terutama pada penguatan UMKM dan ruang ekspresi seni.
Ria menegaskan bahwa DPRD Kota Metro siap mengawal kebijakan yang berpihak pada pemberdayaan kelompok-kelompok masyarakat yang selama ini jarang mendapat sorotan, termasuk komunitas purna ASN. Ia menyebut bahwa pengalaman mereka selama puluhan tahun bekerja di pemerintahan adalah aset pengetahuan yang tidak boleh terabaikan.
“Banyak dari mereka yang memiliki kapasitas dalam manajemen publik, pertanian, pendidikan, hingga kesehatan. Pemerintah daerah harus hadir menyediakan ruang kerja sama yang konkret agar kapasitas itu tidak terputus begitu saja setelah pensiun,” tegasnya.
Di sisi lain, Ria juga menyampaikan bahwa keberadaan Warung UMKM Merah Putih yang hasil keuntungannya digunakan sepenuhnya untuk kegiatan sosial adalah bukti bahwa PWRI tidak hanya berpikir tentang organisasi, tetapi tentang kontribusi berkelanjutan kepada masyarakat.
“Kita patut mengapresiasi model usaha sosial ini. Selain memberikan akses ekonomi, warung tersebut menciptakan ruang gotong royong. Setiap transaksi di warung ini pada akhirnya kembali ke masyarakat dalam bentuk kegiatan sosial—dan bagi saya, ini adalah esensi dari pembangunan yang berkeadilan,” tuturnya.
Acara tersebut ditutup dengan penyerahan KTA PWRI kepada anggota baru, yang sekaligus menjadi simbol bahwa keberadaan PWRI semakin solid dan inklusif. Para anggota tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan, termasuk penampilan perdana Angklung Siger Mas yang disambut tepuk tangan meriah dari tamu undangan.
Bagi Ketua DPRD Kota Metro, kegiatan PWRI ini harus menjadi inspirasi bagi organisasi kemasyarakatan lainnya. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membuka ruang kolaborasi dan memanfaatkan potensi komunitas purna ASN dalam berbagai sektor.
“Ini bukan hanya acara PWRI, tetapi pesan yang sangat jelas bahwa setiap kelompok masyarakat memiliki peran dalam menjaga ketahanan sosial Kota Metro. Pemerintah, legislatif, dan masyarakat harus berjalan berdampingan,” ujarnya.
Dengan demikian, peluncuran PWRI Kota Metro serta pengukuhan unit-unit kegiatan yang ada di bawahnya menjadi penegasan bahwa purna tugas bukanlah akhir dari pengabdian. Di tengah dinamika pembangunan Kota Metro, mereka tetap menjadi pilar sosial yang memiliki nilai, kapasitas, dan pengalaman untuk terus berkontribusi. (Advertorial)

COMMENTS