Abu Jahal yang Kehilangan Jejak MuhammadBuku karya Feby Indirani: Foto istimewa. (*)

HomeBUKU

Abu Jahal yang Kehilangan Jejak Muhammad

Memburu Muhammad adalah judul cerita ketiga belas yang dipilih sebagai judul buku kumpulan cerita karya Feby Indirani ini. Di bagian ini, dalam ceritanya Feby menghidupkan kembali sosok Abu Jahal yang sedang berburu Muhammad, ia mendatangi kelurahan dan menanyakan kepada petugas tentang keberadaan Muhammad.

Galang Dana Bantu Cegah Covid-19, PKKPHAM FH Unila dan Relawan 69 Bersiap Rilis Buku
Mencandra Kehidupan, Membumikan Filsafat untuk Profesional
Kapitalisme Tak Bermoral: Sebuah Bantahan

Memburu Muhammad adalah judul cerita ketiga belas yang dipilih sebagai judul buku kumpulan cerita karya Feby Indirani ini. Di bagian ini, dalam ceritanya Feby menghidupkan kembali sosok Abu Jahal yang sedang berburu Muhammad, ia mendatangi kelurahan dan menanyakan kepada petugas tentang keberadaan Muhammad.

Abu Jahal menyandera seorang ibu petugas kelurahan, sebelum akhirnya Ikrimah –lengkapnya Muhammad Ikrimah – menyediakan diri untuk membantu Abu Jahal menelusuri jutaan data dan nama Muhammad. Namun, sayangnya tak pernah ada (tak ditemukan) lagi sosok Muhammad, bahkan yang sedikit mirip pun.

“Carikan aku Muhammad yang benar!”

“Kau buat daftar tersangka Muhammad yang paling mungkin, temukan lokasinya. Lalu, aku akan menghampiri mereka!”

Begitulah Abu Jahal memerintah Ikrimah.

Sederet nama disebut: Muhammad Jusuf Kalla, Goenawan Mohamad, Muhammad Nazaruddin. Namun, tak satu pun yang cocok!

“Itu sungguh aneh! Lalu, untuk apa kalian semua bernama Muhammad kalau mirip pun tidak? Cuma jadi pencuri, politisi haus kuasa, atau semata orang tak berguna?”

Feby membangun alusi-alusi dalam cerita ini. Banyak orang yang mengagulkan nama dan tampilan, tapi tak berbanding sesuai dengan tutur dan lakunya.

Hampir keseluruhan cerita dalam buku Memburu Muhammad ini memotret kehidupan nyata di sekitar kita. Imajinatif, meledek sekaligus mengajak kita merenung.

Di bagian awal, Feby telah membuka dan memulai ceritanya dengan lakon yang akrab dengan kehidupan di sekitar kita, kebiasaan menggunjing dan membicarakan aib dan dosa orang lain. Secara apik, sindirian itu disusun dalam kisah Annisa dan Ihsan, dua sahabat kecil yang resah, jijik dan mual dengan kondisi sekitarnya. Setiap hari ‘dua anak kecil’ ini menyaksikan kedua orang tua mereka menyantap bagian-bagian tubuh orang yang sudah meninggal (bangkai), bukan sekadar sebagai menu makanan utama di meja makan tetapi juga sebagai ‘cemilan’ menjelang tidur.

Tak hanya kedua orang tua mereka, setiap kali keduanya bertemu orang dewasa, di angkot, sekolah, pasar, bau khas seperti daging busuk yang terselip di gigi atau kuku tiba-tiba meruap dari mulut orang-orang dewasa itu. Bau amis yang nyinyir, meski terkadang tertutupi oleh harum pasta gigi, parfum atau aroma pengharum lainnya. Semakin banyak orang dewasa berkumpul, semakin kuat pula aroma busuk itu tercium.

Dalam cerita ini, Feby jelas sedang menyindir kebiasaan bergunjing, membicarakan keburukan orang lain yang disebut oleh kitab suci sama dengan memakan bangkai saudara sendiri.

Sebagai pembaca, saya tak memiliki alasan untuk tidak merekomendasikan kumpulan cerita Memburu Muhammad ini untuk dibaca. Bagi saya, lewat imajinasinya, Feby Indirani sukses menggambarkan realitas kehidupan di Indonesia paling mutakhir. Sebuah negara yang kini dihuni oleh jutaan orang yang doyan merawat dengki, melestarikan ujub, riya’ dan ghibah. Manusia-manusia yang menggemari bangkai saudaranya sendiri sebagai makanan.

Memburu Muhammad adalah narasi yang bercerita soal kepedihan, membaca buku ini menyeret kita untuk menafakuri gurat-gurat lukisan tentang Islam yang semakin sulit diterjemahkan, samar. Kiwari, yang lebih sering tampil adalah karnaval kesalehan yang gandrung bicara kesalahan orang lain, jago memukul ketimbang merangkul.

Lewat buku ini, Feby sukses bertakhta di atas imajinasinya –istilah Nadirsyah Hosen dalam Pengantar buku ini-. Feby mengoreksi segala laku keberagamaan dengan imajinasinya yang liar, tetapi menohok, tepat sasaran. Tak ada alasan untuk marah, sekali pun itu –sebagian orang menilai provokatif- dengan judul dan cover buku ini, kecuali mereka memang sadar ingin berkelahi dengan imajinasi Feby Indirani.

Saat lauching buku ini secara daring (24/11/2020) lalu, Feby yang menyebut karakter ceritanya sebagai Islamisme magis adaptasi dari istilah realisme magis, mengakui sedang menawarkan percakapan baru dan sudut pandang baru. Baginya, bahwa unsur magis yang dibawa ketika seseorang bicara tentang agama banyak hal yang tidak bisa diindera secara kasat mata, tapi ia percaya itu sangat nyata dan memengaruhi kehidupan fisikalnya. Dan, Buku Memburu Muhammad ini mendedahkan lebih jauh soal Islam yang dipercaya di Indonesia.

Pengakuan itu tentu tak berlebihan. Saat kita berusaha menelusuri alur cerita dalam buku ini, sudut pandang baru itu kerap terasa dalam setiap dialog, jenaka sekaligus serius, ada banyak pertanyaan dan pernyataan yang selama ini jarang disentuh, yang secara tidak sadar akan ‘menyeret’ kita untuk memotret banyak kejadian di sekitar kita. Bisa jadi, kita membaca buku ini, tetapi justru membayangkan ‘yang lain’.

Dan benar, imajinasi yang lebih liar itu baru dimulai ketika kita menutup halaman terakhir buku ini, kemudian melayang dengan serpihan imajinasi sendiri. Membelah imajinasi sebagai Abu Jahal yang terus berikhtiar menemukan Muhammad, atau sekadar mengaku-aku mewarisi keluhuran pekerti yang diteladankan Muhammad. Saya sendiri, lebih senang berimajinasi, Memburu Feby. (*)

Penulis: RU

 

Data Buku

Judul: Memburu Muhammad | Penulis: Feby Indirani | Penerbit: Bentang Pustaka | Tahun Terbit: Oktober 2020 | Tebal: xiv+210 hlm.

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0