Kampung tersebut memiliki keunikan berupa pohon anggur yang terdapat hampir di setiap halaman depan rumah warga. Mulanya, Ide tersebut diinisiasi dari salah satu warga bernama Saiful Anwar (43) dan Pengurus Organisasi Karang Taruna setempat.
Kampung Peng-angguran — mendengar nama tersebut mungkin sepintas terpikir di benak kita tentang bayang-bayang bahwa banyak masyarakat di sana tidak memiliki pekerjaan dan hidup berluntang-lantung. Namun, tidak demikian, Kampung Peng-angguran merupakan sebutan lain dari nama tempat yang berada di Jalan Sepat RT37-38/RW11, Kelurahan Yosodadi, Kecamatan Metro Timur, Kota Metro.

Kampung tersebut memiliki keunikan berupa pohon anggur yang terdapat hampir di setiap halaman depan rumah warga. Mulanya, Ide tersebut diinisiasi dari salah satu warga bernama Saiful Anwar (43) dan Pengurus Organisasi Karang Taruna setempat.
Awal ide itu muncul saat ia melihat Kampung Anggur di Plumbungan, Yogyakarta melalui sosial media youtube. Dari situ, ia berfikiran untuk menerapkan di kampung tempatnya tinggal.

“Awalnya saya mulai sendiri. Selang waktu tak lama dari situ, saya mengajak teman-teman Karang Taruna dan mencoba mengembangkannya. Sempat pesimis, namun setelah ada progres, kami pun mulai semangat kembali untuk menjalankan ide tersebut,” kata SaifulSaiful saat wawancara di kediamannya.
Sampai saat ini Kampung Peng-angguran belum juga launching karena menunggu minimal tanaman anggur merata ditanam di rumah-rumah warga, dan setelahnya akan digagas menjadi agrowisata.
Sedikitnya terdapat 30 jenis tanaman anggur yang dikembangkan dan terdapat 5000 batang bibit anggur yang diharapkan dapat ditanam di setiap halaman rumah warga. Saiful berharap, planing yang dirancang diantaranya Kampung Peng-angguran dapat dicanangkan sebagai agrowisata.

Tidak hanya itu, tanaman anggur tersebut akan menjadi maskot Kampung Peng-angguran, dan setelahnya Saiful bersama warga akan mengembangkan potensi yang ada di desa agar dapat menghasilkan nilai ekonomi bagi warga setempat.
Segala kebutuhan untuk mengembangkan tanaman ini tercukupi, hampir setiap waktu Saiful dan warga berkumpul. Bahan membuat media tanam pun melimpah di kampungnya, tidak ada kesulitan yang dihadapi karena semua dikerjakan secara kolektif.
Selain Saiful, Reporter Antara mewawancarai Kader Karang Taruna Yosodadi Paulus Palma Agung Tri Nugroho (27) yang juga turut serta dalam merintis Kampung Peng-angguran. Sedikitnya bersama 30 anggota lainnya, dirinya mulai melakukan gerakan tersebut pada bulan (12/2020) lalu. Sejauh ini, hasil dari gerakan tersebut telah menuai progres.
Pemuda yang akrab disapa Agung itu telah menjalani ide tersebut secara mandiri, tidak ada campur tangan dari pemerintah. Terhitung dari tahun lalu, berjalan belum genap setahun dan sudah menghasilkan progres dari usahanya. Agung mengaku, kesulitan yang dihadapi hanya pada saat memberikan edukasi ke warga tentang cara merawat tanaman dan media tempat merambat tanaman, mara-mara mereka menyebutnya.
Agung mengaku, mereka masih kesulitan untuk mencari alternatif mara-mara tersebut, dikarenakan mara-mara harus memiliki tekstur kuat dan tahan lama. Sejauh ini, mereka hanya memanfaatkan tiang yang terbuat dari rangka baja ringan dan besi bekas.
“Kesulitannya cuma itu, kami masih berpikir bagaimana mencari alternatif media tempat merambat dahan dan ranting tanaman,” tuturnya.
Sementara, menanggapi soal Kampung Peng-angguran, Kadisporapar Kota Metro Tri Hendriyanto mengatakan, dirinya akan mendukung inisiatif warga dalam membangun desanya. Ke depan, Hendri akan menggelar acara pemerintah sekaligus sebagai bentuk upaya mempromosikan kampung tersebut. Selain itu, ia akan memfasilitasi para pedagang berupa stand-stand dagang.
Namun di luar itu, Hendry mengimbau kepada warga setempat agar pembangunan Kampung Peng-angguran tidak melanggar aturan, seperti memakan lahan untuk dijadikan tempat dagang yang nantinya akan menuai konflik.
Pasar kreatif berkembang pesat di Kota Metro. Dari situ, harus ada regulasi yang mengatur berjalannya pasar agar tidak ada irisan dengan lokasi pasar lainnya.
“Yang terpenting, pasar kreatif yang dibangun mandiri oleh masyarakat dapat berjalan ajek dan sifatnya tidak sementara. Maka perlu diatur dalam hal itu, supaya pembangunan dan hasil yang didapat masyarakat tetap teratur,” katanya.
(M. Misaf Khan)

COMMENTS