Paradoks Pene­gakan Hukum Diten­gah Pan­demi

HomeOPINI

Paradoks Pene­gakan Hukum Diten­gah Pan­demi

Se­cara holis­tik, pe­mer­in­tah se­cara in­sti­tusi harus ex­tra hati-hati dalam mengam­bil sikap terkait situ­asi Covid-19. Se­tiap up­aya dan langkah yang di­am­bil mas­ing-mas­ing lem­baga ne­gara di­tu­jukan dalam rangka menye­la­matkan rakyat tanpa terke­cuali. Dibu­tuhkan up­aya kom­pre­hen­sif sis­tem­a­tis dari pengam­bil ke­bi­jakan ne­gara den­gan pola in­te­gratif dan in­terkonek­tif dalam men­gatasi wabah Covid-19 ini. Tidak ada tol­er­ansi ter­hadap ke­sala­han, maupun ke­bi­jakan yang kon­tra pro­duk­tif an­tara satu den­gan yang lain­nya. Mari tun­taskan hal luar bi­asa, den­gan cara-cara yang luar bi­asa.

Politik bebas aktif Indonesia dalam resolusi Majelis Umum PBB sebagai respon terhadap krisis di Ukraina
Post-Truth dan Pilkada: ketika kebenaran menjadi relatif
Presiden tak Berarti

Setu­rut den­gan ke­bi­jakan Pres­i­den terse­but, berba­gai up­aya dari selu­ruh ke­menter­ian dan lem­baga juga telah di­arahkan dalam rangka memerangi Covid-19. Tak terke­cuali, di bidang hukum Kapolri dan Menkumham juga telah mengam­bil langkah-langkah an­ti­si­patif un­tuk mence­gah ek­ses negatif yang bersi­fat luas ak­i­bat Covid-19.

Pen­dekatan Soft Power

Pada in­sti­tusi Polri, Kapolri se­laku pu­cuk pimp­inan se­belum­nya telah mener­bitkan Mak­lumat Kapolri ten­tang kepatuhan ter­hadap ke­bi­jakan pe­mer­in­tah dalam penan­ganan penye­baran Covid-19 tang­gal 19 Maret 2020, yang da­pat di­a­sum­sikan se­ba­gai pengu­mu­man kepada masyarakat un­tuk da­pat senan­ti­asa tertib dan disi­plin dalam situ­asi ben­cana non alam ak­i­bat virus corona den­gan tetap mematuhi hukum yang berlaku.

Mak­lumat terse­but diter­bitkan dalam rangka Polri men­jaga ke­pentin­gan umum, se­ba­gaimana di­mak­sud dalam Pasal 18 ayat (1) UU Ke­polisian. Kapolri da­pat menen­tukan keadaan yang san­gat perlu dalam men­jaga ke­pentin­gan umum, salah sat­unya mem­per­tim­bangkan situ­asi na­sional terkait den­gan cepat­nya penye­baran Covid-19 agar tidak meluas, dan mence­gah berkem­bang men­jadi gang­guan ter­hadap kea­manan dan ketert­iban masyarakat.

Pe­san yang in­gin dis­am­paikan adalah Polri melalui pen­dekatan soft of power den­gan metode pre­ven­tif dan pre­emp­tif tetap in­gin mem­berikan per­lin­dun­gan kepada Masyarakat. Se­tiap warga ne­gara di­hara­p­kan da­pat berpar­tisi­pasi den­gan mengikuti him­bauan pe­mer­in­tah, dan patuh ter­hadap ke­ten­tuan per­at­u­ran pe­run­dang-un­dan­gan yang berlaku, dan apa­bila dite­mukan per­bu­atan yang berten­tan­gan den­gan mak­lumat terse­but maka Polisi di­hadap­kan mengam­bil tin­dakan pence­ga­han ter­lebih dahulu.

Se­tali tiga uang Menteri Hukum dan HAM men­er­ap­kan ke­bi­jakan pelepasan dan pem­be­basan Nara­p­i­dana dan anak dari lem­baga pe­masyarakatan melalui pro­gram asim­i­lasi, pem­be­basan bersyarat, cuti men­je­lang be­bas, dan cuti beryarat dalam up­aya mence­gah penu­laran Covid-19 di lem­baga pe­masyarakatan. Se­lain itu melakukan up­aya prefen­tif den­gan pem­bat­asan ter­hadap per­lin­tasan ne­gara salah sat­unya den­gan penghent­ian se­men­tara be­bas Visa kun­jun­gan ke In­done­sia.

Repre­sif Melalui Pene­gakan Hukum

Be­ber­apa hari yang lalu, Kapolri pada tang­gal 4 April 2020 telah menyam­paikan 5 (lima) Surat Telegram Kapolri yang di­tu­jukan kepada bawa­han­nya terkait den­gan ara­han Kapolri dalam rangka pene­gakan hukum ter­hadap ke­ja­hatan yang di­lakukan pada masa daru­rat Covid-19. Ke­lima Surat telegram itu an­tara lain : Per­tama, bernomor ST/​1098/​IV/​HUK.7.1/​2020 ten­tang penan­ganan ke­ja­hatan poten­sial se­lama pem­bat­asan sosial berskala be­sar (PSBB); Ke­dua, surat telegram Nomor: ST/​1099/​IV/​HUK.7.1/​2020 berisi ten­tang penan­ganan ke­ja­hatan dalam tu­gas keterse­di­aan ba­han pokok dan dis­tribusi; Ketiga, surat telegram Nomor: ST/​1100/​IV/​HUK.7.1/​2020 per­i­hal penan­ganan ke­ja­hatan di ru­ang siber; Keem­pat, surat bernomor ST/​1101/​IV/​HUK.7.1/​2020 ih­wal penan­ganan ke­ja­hatan poten­sial dalam masa pen­er­a­pan PSBB; dan Ke­lima, Nomor ST/​1102/​IV/​HUK.7.1/​2020 ten­tang penan­ganan tenaga kerja In­done­sia (TKI) yang baru tiba dari ne­gara ter­jangkit Covid-19.

Per­in­tah kapolri melalui surat telegram da­pat di­pa­hami se­ba­gai ke­bu­tuhan dalam men­dukung up­aya pe­mer­in­tah melawan Covid-19, uta­manya penan­ganan ke­ja­hatan poten­sial dalam masa pen­er­a­pan Pem­bat­asan Sosial Berskala Be­sar (PSBB). Dalam masa pen­er­a­pan PSBB, Kapolri me­nun­jukkan ke­seriu­san­nya den­gan memer­in­tahkan ja­jaran­nya un­tuk menin­dak potensi ke­ja­hatan pasca pengu­mu­man kedaru­ratan ke­se­hatan dan pem­bat­asan sosial berskala be­sar oleh pe­mer­in­tah.

Saat ini Per­in­tah Kapolri terse­but se­cara let­ter­lijk men­jadi pema­haman ja­jaran ke­polisian, mis­al­nya Kapolda Metro­jaya dalam perny­ataan­nya diku­tip oleh Me­dia de­tik­com 9 April 2020, yang menu­rut­nya “ada be­ber­apa ke­ten­tuan pi­dana yang bias dit­er­ap­kan kepada masyarakat seperti UU No. 4 tahun 1984 ten­tang Wabah Penyakit Menu­lar, UU No. 6 tahun 2018 ten­tang Kekaran­ti­naan ke­se­hatan…”. Dalam keadaan seperti ini, in­sti­tusi Ke­polisian terke­san tidak mema­hami bahwa PSBB itu diatur hanya dalam UU No. 6 tahun 2018 ten­tang Kekaran­ti­naan ke­se­hatan, se­hingga pen­er­a­pan pi­dana ter­hadap pelang­garan PSBB tidak rel­e­van lagi meng­gu­nakan ke­ten­tuan pi­dana yang diatur dalam UU No. 4 tahun 1984 ten­tang Wabah Penyakit Menu­lar, dan/​atau UU No. 24 tahun 2007 ten­tang Penang­gu­lan­gan Ben­cana lagi.

Meskipun men­jadi opsi ter­akhir, pene­gakan hukum me­mang su­dah sep­a­tut­nya dit­er­ap­kan pada situ­asi wabah Covid-19. Pene­gakan hukum tentu saja un­tuk meng­ga­pai ke­disi­plinan dan ketert­iban masyarakat den­gan me­man­faatkan efek hukum se­ba­gai tool of so­cial en­gi­neer­ing se­ba­gaimana pen­da­pat Roscoe Pound yang meny­atakan hukum da­pat berfungsi melakukan rekayasa masyarakat agar tingkah laku atau pola-pola yang ada di­dalam masyarakat sesuai den­gan hukum.

Yang banyak men­jadi sorotan masyarakat adalah ara­han kapolri melalui surat telegram ketiga terkait penan­ganan ke­ja­hatan di ru­ang siber. Se­ba­gai pene­gak hukum langkah Polri un­tuk men­gu­rangi penye­baran hoax den­gan pen­er­a­pan pasal 14 dan 15 UU No. 1 tahun 1946, da­pat di­a­cungi jem­pol. Akan tetapi di­s­isi lain, an­ca­man men­er­ap­kan Pasal 207 KUHP ten­tang penghi­naan ter­hadap pen­guasa umum, di­takutkan hanya se­ba­gai up­aya Polri se­ba­gai tameng melin­dungi pe­mer­in­tah dari kri­tikan ta­jam rakyat dalam up­aya men­gatasi wabah Covid-19. Pada saat yang sama ke­be­basan berpen­da­pat rakyat di­jamin oleh kon­sti­tusi Pasal 28 UUD 1945.

Pada situ­asi ab­nor­mal ak­i­bat Covid-19 ini, Kapolri terke­san abai den­gan kon­disi psikologi rakyat In­done­sia yang juga menginginkan keadaan kem­bali nor­mal. Pe­mer­in­tah jan­gan baper, sep­a­n­jang kri­tikan terse­but kon­struk­tif tentu tidak boleh di­ang­gap se­ba­gai su­atu hal yang hina dan menistakan pen­guasa. Ketika pe­mer­in­tah ke­liru, maka wa­jar saja rakyat marah, ke­mu­dian mengkri­tik. Ketika ke­mu­dian kri­tikan itu di­ang­gap se­ba­gai ke­ja­hatan, maka se­cara tidak lang­sung ke­ja­hatan itu buah dari pe­mer­in­tah sendiri. Sesuai den­gan pen­da­pat ali­ran bio so­si­ol­o­gis krim­i­nal, E. Feri yang meny­atakan ke­ja­hatan itu adalah hasil dari fak­tor-fak­tor in­di­vid­ual dan sosial.

Meski men­uai pro dan kon­tra, se­ba­gai ne­gara yang men­jun­jung tinggi hukum maka pen­dekatan repre­sif se­ba­gai ul­ti­mum remid­ium juga tetap dibu­tuhkan. Law en­force­ment men­jadi salah satu up­aya sosial kon­trol pada situ­asi di­mana ke­hidu­pan masyarakat ter­ganggu den­gan wabah Covid-19, yang diper­parah den­gan be­ban sosial ekonomi dan psikologi yang di­hasilkan dari pen­er­a­pan ke­bi­jakan PSBB yang mem­bat­asi perg­er­akan masyarakat dan memaksa harus ting­gal dirumah.

Bagi se­ba­gian be­sar rakyat In­done­sia, da­pat memak­lumi up­aya pe­mer­in­tah men­er­ap­kan PSBB se­ba­gai bagian dari pelak­sanaan kekaran­ti­naan ke­se­hatan mence­gah penye­baran Covid-19. Yang tidak boleh dilu­pakan, pen­er­a­pan PSBB mem­bawa pen­garuh sig­nifikan bagi masyarakat In­done­sia yang berpeng­hasian har­ian, dan tidak da­pat dipungkiri kon­disi ini mem­buat mereka men­jadi san­gat dilema­tis.

Penye­le­sa­ian Kom­pre­hen­sif dan Sis­tem­a­tis.

Banyak kalan­gan me­ni­lai, ara­han kapolri melalui surat telegram terse­but, dalam kon­teks pene­gakan hukum di­masa pan­demi ini kon­tra pro­duk­tif den­gan ke­bi­jakan pe­mer­in­tah. Mis­al­nya den­gan ke­bi­jakan Menkumham un­tuk melepaskan nara­p­i­dana / anak un­tuk mence­gah penu­laran Covid-19 dalam kon­disi la­pas yang over­ca­pac­ity, berke­ba­likan kapolri malah terke­san berkeing­i­nan memenuhi pen­jara pada situ­asi Covid-19.

Den­gan mengede­pankan niat demi ke­masla­hatan bersama, in­sti­tusi Polri tetap harus bertin­dak se­cara hu­ma­nis tanpa men­gu­rangi pro­fe­sion­al­isme dan men­jun­jung tinggi hak azasi manu­sia. Se­jalan den­gan pen­da­pat Ke­tua Komisi III DPR RI Her­man Herry dalam keteran­gan yang diku­tip dari me­dia on­line 8 April 2020, berpen­da­pat “Rakyat sedang susah.

Psikol­o­gis masyarakat, bukan hanya di Jakarta, sedang tertekan oleh penye­baran virus Corona. Oleh se­bab itu, aparat yang bertu­gas di la­pan­gan harus mengede­pankan langkah per­suasif dan hu­ma­nis. Kete­gasan harus di­tun­jukkan se­ba­gai bukti ny­ata ke­hadi­ran ne­gara, tetapi prin­sip pro­fe­sional, mod­ern, dan ter­per­caya juga mesti diper­ta­hankan”.

Un­tuk itu, alih-alih melakukan pen­dekatan hukum repre­sif, ada baiknya pene­gak hukum lebih menguta­makan hukum resti­tusif. Ke­bi­jakan penang­gu­lan­gan ke­ja­hatan (Crim­i­nal pol­icy), harus di­arahkan pada pence­ga­han dan mengem­ba­likan keadaan sem­ula seperti se­belum ter­jadinya pelang­garan. Meskipun tidak menutup ru­ang, pene­gakan repre­sif terse­but di­lakukan khusus­nya ke­ja­hatan ter­hadap ketert­iban umum (pub­lic or­der crime).

Se­cara holis­tik, pe­mer­in­tah se­cara in­sti­tusi harus ex­tra hati-hati dalam mengam­bil sikap terkait situ­asi Covid-19. Se­tiap up­aya dan langkah yang di­am­bil mas­ing-mas­ing lem­baga ne­gara di­tu­jukan dalam rangka menye­la­matkan rakyat tanpa terke­cuali. Dibu­tuhkan up­aya kom­pre­hen­sif sis­tem­a­tis dari pengam­bil ke­bi­jakan ne­gara den­gan pola in­te­gratif dan in­terkonek­tif dalam men­gatasi wabah Covid-19 ini. Tidak ada tol­er­ansi ter­hadap ke­sala­han, maupun ke­bi­jakan yang kon­tra pro­duk­tif an­tara satu den­gan yang lain­nya. Mari tun­taskan hal luar bi­asa, den­gan cara-cara yang luar bi­asa.

Ir­wan

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0