Se­cukup­nya Saja

HomeOPINI

Se­cukup­nya Saja

"Brown menuliskan be­ragama kisah yang menggam­barkan banyak as­pek tek­nis ke­hidu­pan yang lebih luar bi­asa se­lama pe­ri­ode Edo ini. Serta fak­tor-fak­tor sosial, poli­tik, dan ekonomi yang rel­e­van."

Kesenjangan kode etik jurnalistik terhadap hak asasi pelaku asusila
Ancaman sampah dan masa depan Kota Metro
Selamat datang wali kota baru

Eneca per­nah berkata: “It is not the man who has too lit­tle, but the man who craves more, that is poor.”

 

Pada se­buah siang yang sibuk di ten­gah kota New York.  Se­o­rang ek­seku­tif muda yang ber­jalan den­gan jas rapi warna hi­tam.  Ia ber­jalan per­la­han men­ja­jakan sesu­atu yang tidak bi­asa.  Pada seku­jur jas anak muda ini tertem­pel lem­baran uang dolar Amerika.  Lem­baran uang itu ditem­pel mu­lai dari bahu, pung­gung, dada, hingga ujung jas di pe­rut.  Ter­ma­suk kanan kiri lengan­nya.  Penuh den­gan uang dolar.  Dia ber­jalan per­la­han sam­bil memegang se­bi­lah lem­bar kar­ton bekas kar­dus.  Ter­tulis den­gan spi­dol di kar­ton itu: Take What You Need.

Am­bil­lah se­jum­lah yang kau per­lukan.  Orang-orang lalu lalang sep­a­n­jang de­pan perkan­toran yang sibuk.  Lalu sese­o­rang den­gan jas serupa para ek­seku­tif berpa­pasan, berhenti dan mengam­bil 4-5 lem­bar  dolar. Dan pergi.   Ke­mu­dian se­o­rang perem­puan paka­ian par­lente den­gan menen­teng tas Louis Vuit­ton tak ket­ing­galan men­co­mot uang dolar itu.

Lelaki yang berke­meja uang itu karena meli­hat perem­puan den­gan tas ma­hal, maka dia bertanya padanya: “You re­ally Need This?”  Perem­puan itu den­gan san­tai men­jawab: “Ya.  Be­sok saya ada janji ke sa­lon un­tuk mer­apikan kuku.”  Se­lan­jut­nya ada sese­o­rang den­gan ter­gopoh-gopoh ba­lik lagi un­tuk mengam­bil be­ber­apa lem­bar, sam­bil berkata: “I don’t even need it.” Saya ng­gak bu­tuh sih se­be­tul­nya.  Dia tidak memer­lukan tetapi tetap saja dia mengam­bil­nya.

Anak muda berbaju uang itu melan­jutkan ber­jalan pelan.  Tak lama se­o­rang perem­puan den­gan tas Givenchynya yang meng­gan­tung sibuk mengam­bil be­ber­apa lem­bar. Sam­pailah lelaki itu pada se­buah perem­patan, dekat pem­ber­hent­ian bis.  Di samp­ing halte itu ada se­o­rang ge­lan­dan­gan.  Dis­apa den­gan ramah.  Ge­lan­dan­gan itu mengam­bil dua lem­bar.  Dia me­mang bi­lang hanya akan mengam­bil dua lem­bar saja.  “Cukup­kah se­gitu?” Kata lelaki berbaju uang itu.  “Mungkin kau mem­bu­tuhkan lebih banyak,” katanya lagi.  Tidak.  Saya hanya mem­bu­tuhkan dua lem­bar saja cukup un­tuk beli be­ber­apa makanan.

Silakan kau berikan kepada orang yang mem­bu­tuhkan­nya.  “Apakah kau tidak beli makanan lagi lebih banyak un­tuk be­sok atau lusa?,” katanya den­gan sedikti rasa pe­nasaran.  Ge­lan­dan­gan itu tetap bersikukuh: Tidak, saya su­dah cukup ini saja.  Kau berikan kepada orang lain saja.  Anak muda itu ke­mu­dian mengam­bil be­ber­apa lem­bar dari dalam dom­pet­nya dan diberikan pada ge­lan­dan­gan yang berte­man an­jing itu.  Ia sodor­kan lem­baran dolar se­ba­gai apre­si­asi dari apa yang telah dia lakukan hari itu: mengam­bil se­cukup­nya, ada orang lain yang juga mem­bu­tuhkan.

Meskipun hanya mengam­bil den­gan gratis, ia sadar ada orang lain yang memer­lukan­nya juga.DI New York—seperti hal­nya di be­la­han mana pun di dunia, orang-orang yang kaya se­lalu masih merasa memer­lukan lebih banyak lagi.  Tidak peduli pada orang-orang yang se­jatinya san­gat mem­bu­tuhkan.Ada kisah lain: Roti dalam Ker­an­jang Gan­tung, Ask­ida Ek­mek.  Pada ja­man Turki Us­mani ada se­buah tra­disi mu­lia yang seder­hana di Turki.

Askıda Ek­mek adalah se­buah ke­bi­asaan yang be­rakar pada za­man Ot­toman itu berkai­tan den­gan kon­sep za­kat, pi­lar agama Is­lam yang berfokus pada berba­gai tin­dakan amal. Ada lima rukun iman dalam Is­lam, dan pengikut harus memenuhinya se­mua un­tuk men­jalani ke­hidu­pan yang baik dan bermoral. Per­syaratan za­kat da­pat dipenuhi den­gan mem­berikan uang, be­ras atau ben­tuk lain sesuai ke­ten­tuan.  Pem­ber­ian ek­mek (roti) san­gat pent­ing di Turki karena dalam keper­cayaan Is­lam, roti menopang ke­hidu­pan dan per­lin­dun­gan hidup adalah suci.  Ten­tang kisah roti yang dis­im­pan dalam Ker­an­jang Gan­tung.

Dalam kisah itu sese­o­rang yang mem­beli se­po­tong roti di toko roti lalu mem­ba­yar den­gan harga dua po­tong roti, maka roti dari kelebi­han pem­be­lian itu dile­takkan di dalam ker­an­jang yang bi­asa di­gan­tung di po­jok de­pan toko.  Roti dalam ker­an­jang gan­tung ini diberikan pada orang-orang yang mem­bu­tuhkan­nya.  Jika su­atu saat ada yang datang dan mem­bu­tuhkan roti tetapi tidak mampu un­tuk mem­be­linya, maka dia bisa mengam­bil roti dalam ker­an­jang gan­tung.

Mengam­bil se­cukup­nya un­tuk sekedar meng­ha­lau la­par.  Pada saat ter­tentu pen­jual roti mem­berikan roti yang ada dalam ker­an­jang itu 4-5 po­tong.  Na­mun, bi­asanya orang yang mem­intanya itu akan mengem­ba­likan jika berlebi­han.  “Saya hanya memer­lukan dua po­tong roti saja, su­dah cukup.  Berikan pada orang yang yang juga mem­bu­tuhkan.” Tra­disi Ker­an­jang Gan­tung itu masih diprak­tekkan di Turki.  Orang-orang yang mengam­bil roti itu tidak per­nah berpikir un­tuk mengam­bil lebih banyak dari yang ia bu­tuhkan.

Dan sisi yang pal­ing menakjubkan dari tra­disi ini adalah orang-orang yang dulu mem­bu­tuhkan itu, jika su­atu saat kon­disinya mem­baik, mereka tidak per­nah melu­pakan hari-hari dia mengam­bil roti dari Ker­an­jang Gan­tung.  Ketika mem­beli roti, mereka tidak lupa mele­takkan roti di Ker­an­jang Gan­tung.  Agar orang lain yang mem­bu­tuhkan bisa mengam­bil­nya cuma-cuma.  “Benim bir günüm var, senin bir günün var,“ kata orang Turki.  “Ada hari mi­likku, ada hari mi­likmu.”Ra­su­l­ul­lah SAW bersabda: “Tidak­lah sese­o­rang dikatakan be­ri­man jika ia kenyang, tetang­ganya merasakan ke­la­paran.”  Roti di Ker­an­jang Gan­tung adalah con­toh ter­baik bagi masyarakat yang bi­jak.  Mereka akan men­jadikan ha­dits ini se­ba­gai syiarnya.Kita sekarang pergi ke Jepang.  Berkun­jung pada Jepang pada tahun 1603. Jepang mema­suki pe­ri­ode Edo.  Kisah sus­tain­able liv­ing ini saya olah dari buku Azby Brown, Just Enough: Lessons in Liv­ing Green from Tra­di­tional Japan (Tut­tle Pub­lish­ing, 2012).

Masyarakat Jepang meng­hadapi ke­mu­ngk­i­nan ke­han­cu­ran karena degradasi lingkun­gan.  Tetapi pe­mer­in­ta­han Edo bertin­dak cepat.  Ben­cana itu tidak ter­jadi.  Meskipun ter­jadi kerusakan ekologi yang parah.  Cara penan­ganan masalah ekologi yang tepat telah men­jadikan­nya con­toh yang in­struk­tif bagi langkah-langkah Jepang se­lan­jut­nya. Pada masa itu Jepang meng­hadapi ke­suli­tan ek­strem dalam mem­per­oleh kayu ban­gu­nan, menderita erosi dan kerusakan daerah ali­ran sun­gai karena telah menebang habis be­gitu banyak hutan di gu­nung un­tuk men­da­p­atkan kayu. Ham­pir tidak da­pat mem­per­luas pro­duksi per­tan­ian sam­pai pada tingkat yang diper­lukan un­tuk mem­beri makan pop­u­lasi yang tum­buh .

Ke­bu­tuhan pen­duduk perko­taan, terutama ibu kota Edo, tetapi juga pen­duduk Os­aka, Nagoya, dan banyak kota lain yang bertum­buh, berten­tan­gan den­gan ke­pentin­gan pen­duduk pedesaan. Ke­hidu­pan para petani men­jadi se­makin sulit oleh ke­wa­jiban hukum mereka un­tuk meny­er­ahkan seper­tiga atau lebih dari hasil pa­nen mereka un­tuk men­dukung ke­las pra­ju­rit.Dalam hal lingkun­gan dan sum­ber daya alam, Jepang meng­hadapi aneka tan­ta­n­gan dan sekali­gus berkah karena ke­limpa­han­nya. Kepu­lauan Jepang san­gat bergu­nung-gu­nung, dan tanah yang subur ter­batas pada be­ber­apa dataran pan­tai yang luas dan banyak lem­bah gu­nung yang sem­pit, yang jum­lah­nya hanya sek­i­tar seperem­pat dari luas daratan ne­gara. Pada awal pe­ri­ode Edo, ham­pir se­mua tanah yang berpotensi di­tanami su­dah dibuka un­tuk di­tanami. Dan itu hanya mem­beri makan pen­duduk sek­i­tar dua be­las juta. La­han per­tan­ian di banyak daerah me­nun­jukkan tanda-tanda penu­runan dan degradasi. Hasil­nya menu­run.

Tetapi ne­gara ini men­da­pat man­faat dari ik­lim sedang dan arus laut yang hangat. Diberkahi den­gan cu­rah hu­jan yang me­limpah dan musim tanam yang pan­jang. Air tawar dari pen­cairan salju san­gat mu­rah hati dan men­galir de­ras. Daerah ali­ran sun­gai yang luas men­galir ke lem­bah-lem­bah sun­gai dan la­han basah yang subur. Hutan per­awan yang awal­nya menu­tupi pe­gu­nun­gan kepu­lauan luas dan be­ragam dalam spe­sies berdaun lebar dan je­nis konifer. Dan menye­di­akan habi­tat yang san­gat kaya tem­pat segala macam flora dan fauna berkem­bang.

Alam sendiri telah mem­berkahi Jepang den­gan baik un­tuk tem­pat ting­gal manu­sia. Tetapi pada awal 1600-an tanah itu menderita ek­sploitasi berlebi­han oleh pop­u­lasi be­sar.  Maka, yang lebih luar bi­asa, bahwa dua ra­tus tahun ke­mu­dian tanah yang sama men­dukung tiga pu­luh juta orang — dua seten­gah kali pop­u­lasi awal— den­gan sedikit tanda degradasi lingkun­gan. De­for­estasi telah di­hen­tikan dan diba­likkan, la­han per­tan­ian dit­ingkatkan dan dibuat lebih pro­duk­tif, dan kon­ser­vasi di­lak­sanakan di se­mua sek­tor masyarakat, baik perko­taan maupun pedesaan. Stan­dar hidup se­cara ke­selu­ruhan telah meningkat. Orang-orang men­da­p­atkan pen­gan, tem­pat ting­gal, dan paka­ian yang lebih baik. Mereka lebih se­hat. “Den­gan stan­dar obyek­tif apa pun, itu adalah prestasi yang luar bi­asa. Bisa di­bi­lang tak ter­tandingi di tem­pat lain, se­belum atau sesu­dah­nya.

Ke­ber­hasi­lan ini se­ba­gian karena ke­ma­juan teknologi dan se­ba­gian karena visi pe­mer­in­tah. Pemu­li­aan per­tan­ian berperan, seperti hal­nya pen­ingkatan hidrologi. De­sain san­gat pent­ing, seperti juga soal pengumpu­lan dan dis­tribusi in­for­masi yang tepat waktu. Tetapi lebih dari segalanya, ke­ber­hasi­lan ini dise­babkan oleh men­tal­i­tas yang mer­ata yang men­dorong se­mua up­aya un­tuk men­jadi lebih baik.

Men­tal­i­tas ini di­dasarkan pada pema­haman ten­tang fungsi dan batas-batas yang in­heren dari sis­tem alami. Ini men­dorong keren­da­han hati, sam­pah di­ang­gap tabu, se­lalu ker­jasama men­cari so­lusi. Men­e­mukan makna dan kepuasan dalam ke­hidu­pan yang in­dah di mana se­tiap in­di­vidu hanya mengam­bil se­cukup­nya saja dari dunia dan tidak berlebih.

Brown menuliskan be­ragama Kisah yang menggam­barkan banyak as­pek tek­nis ke­hidu­pan yang lebih luar bi­asa se­lama pe­ri­ode Edo ini. Serta fak­tor-fak­tor sosial, poli­tik, dan ekonomi yang rel­e­van.   Tetapi hal yang jauh lebih pent­ing dalam se­jum­lah kisah dari be­ragam sudut ke­hidu­pan Jepang pe­ri­ode Edo ini adalah un­tuk menyam­paikan men­tal­i­tas “se­cukup­nya” ini se­ba­gai pe­do­man har­ian—se­buah teladan menuju sus­tain­able liv­ing bagi  ke­hidu­pan ju­taan orang di selu­ruh masyarakat Jepang dan bagi de­la­pan mil­yar manu­sia di Bumi.Di nu­san­tara tra­disi “se­cukup­nya” juga me­limpah.  Men­jadi prak­tek ke­hidu­pan be­ber­apa masyarakat adat.  Masyarakat Dayak Iban di Dusun Sun­gai Utik, Desa Batu Lin­tang, Ke­ca­matan Em­baloh, Kabu­paten Ka­puas Hulu, Kali­man­tan Barat mis­al­nya.

Mereka memi­liki komit­men men­jaga hutan se­ba­gai sum­ber penghidu­pan mereka.  Memi­liki hutan adat seluas 9.453,5 hek­tar yang se­lalu di­jaga ke­lestar­i­an­nya.  Mem­per­ta­hankan dari terka­man dan an­ca­man ko­r­po­rasi.  Ko­mu­ni­tas Dayak Iban yang per­nah men­da­p­atkan Equa­tor Award 2019, bersama 22 ko­mu­ni­tas lokal dan adat selu­ruh dunia dari UNDP [United Na­tions De­vel­op­ment Pro­gramme] ini mer­awat sum­ber­daya alam yang mereka mi­liki den­gan acara me­ma­nen den­gan se­cukup­nya.

Menangkap ikan pada waktu-waktu ter­tentu.  Menebang po­hon hanya di­lakukan un­tuk memenuhi ke­bu­tuhan-ke­bu­tuhan se­cukup­nya: mem­ban­gun rumah kayu baru, meng­ganti kayu yang la­puk.  “Wilayah hutan adat dibagi be­ber­apa zona. Ada per­muki­man, hutan lin­dung adat, hutan pro­duksi, dan hutan cadan­gan. Masyarakat men­gan­dalkan alam un­tuk hidup. Mereka berburu, menangkap ikan, dan men­cari sayur,” ujar Bandi yang dike­nal den­gan sebu­tan Apay Janggut [Pak Janggut], kepala rumah pan­jang Sun­gai Utik, seperti di­t­ulis, Mongabay In­done­sia (24 June 2019).

“Men­jaga hutan meru­pakan amanah leluhur yang harus di­jun­jung tinggi. Men­jaga hutan artinya men­jaga ke­hidu­pan.”Masyarakat adat Baduy di Kabu­paten Lebak, Propinsi Ban­ten juga mem­punya cara hidup yang “se­cukup­nya.”

Se­tiap pa­nen padi hanya se­cukup­nya saja di­gu­nakan un­tuk makan se­hari-hari.  Se­ba­gian be­sar dis­im­pan se­ba­gai cadan­gan.  Gabah ker­ing yang dis­im­pan di leuit atau lum­bung Baduy adalah padi yang di­hasilkan dari ladang atau huma. Gabah-gabah terse­but da­pat dis­im­pan hingga 50 tahun dan masih layak un­tuk di kon­sumsi.  Ada 3 je­nis ben­tuk lum­bung di masyarakat yang men­di­ami Desa Kanekes, Ke­ca­matan Leuwidamar ini. Yaitu leuit leng­gang, leuit mandiri, dan leuit  karum­bung.  Pem­be­danya ada diben­tuk ban­gu­nan dan juga ka­p­a­sitas ikat padi yang da­pat di­ta­m­pung.

Umum­nya Baduy Luar meng­gu­nakan leuit karum­bung yang mampu menam­pung 500 ikat gabah. Sedan­gkan leuit leng­gang ataupun leuit mandiri banyak dite­mukan di Baduy Dalam, dan ini bisa menam­pung hingga 1000 ikat.Se­tiap kepala kelu­arga di masyarakat Baduy min­i­mal memi­liki satu buah leuit. Ini berhubun­gan den­gan keper­cayaan Sunda Wi­wi­tan yang mereka anut. Berladang adalah se­buah ke­wa­jiban bagi masyarakat­nya. Pun be­gitu den­gan meny­im­pan hasil­nya dalam leuit.  Tabu bagi mereka un­tuk mem­perda­gangkan padi hasil ladang.  Peng­gu­naan benih, pupuk dan pestisida mod­ern pun men­jadi pan­tan­gan bagi masyarakat Baduy. Benih penana­man di tahun berikut­nya tidak mema­sukkan­nya ke leuit.  Tapi bu­lir-bu­lir yang di­ang­gap ung­gul dip­isahkan, dis­im­pan dalam ko­tak-ko­tak kayu di rumah mereka.

Dalam ke­se­har­i­an­nya Masa­yarakat Adat Baduy cukup me­man­faatkan se­mua ba­han-ba­han yang terse­dia di alam.  Bagi mereka itu adalah cukup. Tidak ada per­ala­tan elek­tronik, tidak meng­gu­nakan per­ab­otan rumah tangga seperti pir­ing atau cangkir yang ter­buat dari logam atau kaca. Tidak ada sabun, shampo atau pasta gigi saat mandi. Masyarakat lebih memilih meng­gu­nakan ba­han-ba­han yang terse­dia di alam un­tuk mem­ber­sihkan diri mereka.  Orang Baduy Dalam meng­gu­nakan batu yang ke­mu­dian di gosok-gosokan ke tubuh mereka.  Se­men­tara, un­tuk mem­ber­sihkan gigi, mereka meng­gu­nakan ser­abut ke­lapa. Suku Baduy Dalam me­mang san­gat meng­har­gai alam mereka, mereka tidak in­gin meng­gu­nakan per­ala­tan yang men­gan­dung ba­han kimia dan sam­pah plas­tik.Ke­hidu­pan yang se­cukup­nya bagi orang Baduy adalah ke­hidu­pan yang ba­ha­gia.

Ke­hidu­pan yang seder­hana.Teladan hidup “se­cukup­nya” seperti con­toh-con­toh di atas pan­tas men­jadi cer­min bagi kita un­tuk mengikutinya.  Be­gitu banyak teladan, be­gitu banyak ke­bi­jak­sanaan yang di­tun­jukkan oleh je­jak per­ad­a­ban.  Ting­gal bagaimana kita menyikapi teladan itu.  Bumi dan seisinya ini cukup un­tuk men­jadi sum­ber ke­hidu­pan bagi um­mat manu­sia.  Tetapi tidak mampu un­tuk memenuhi nafsu men­gua­sai dan kon­sumsi yang berlebi­han dari segelin­tir manu­sia.     Be­tul kata Seneca, bukan soal manu­sia itu keku­ran­gan.  Tetapi ada orang-orang yang se­lalu in­gin men­da­p­atkan lebih banyak, dan di­alah orang miskin yang sebe­narnya.

Dwi R. Muh­ta­man

COMMENTS

WORDPRESS: 0
DISQUS: 0